Header

5/12/2012

A Sweet Lesson on Patience from Taxi Driver - The Story


Aku tiba di suatu tempat dan menekan klakson. Setelah menunggu beberapa menit, aku menekan klakson lagi. Dikarenakan ini akan menjadi tumpangan terakhir di jam kerjaku aku sempat berpikir untuk pergi saja, tetapi akhirnya aku memutuskan memarkirkan taksi di taman dan berjalan mendekati pintu dan mengetuknya. "Tunggu sebentar", jawab seorang wanita dengan suara yang lemah. Aku dapat mendengar sesuatu sedang diseret di lantai.

Setelah cukup lama menunggu, pintu akhirnya terbuka. Seorang wanita kecil berusia sekitar 90 tahunan berdiri di depanku. Dia mengenakan gaun dan topi berbentuk kotak, seperti seseorang yang berada di film tahun 1940-an.

Di sebelahnya terdapat sebuah koper berbahan nilon. Apartemen itu tampak seperti tidak ada yang tinggal di dalamnya selama bertahun-tahun. Semua furnitur ditutupi dengan lembaran-lembaran.

Tidak ada jam di dinding, tidak ada pernak-pernik atau peralatan di counter. Di sudut terdapat sebuah kotak kardus yang penuh dengan foto dan barang pecah belah.

'Apakah Anda bersedia membawa tas saya ke mobil? "katanya. Aku mengambil koper itu dan membawanya ke bagasi taksi, lalu kembali dan membantu wanita tersebut.

Dia memegang tanganku dan kami berjalan perlahan menuju tepi jalan. Dia terus berterima kasih kepada saya untuk kebaikan saya. "Tidak apa-apa", saya katakan kepadanya. "Saya hanya mencoba untuk melayani penumpang saya seperti keinginan saya untuk ibu saya agar diperlakukan dengan baik."

"Oh, kamu seorang anak yang baik", kata wanita itu. Ketika kami berada di dalam taksi, dia memberikanku sebuah alamat dan bertanya, "Dapatkah Anda mengantar saya melewati pusat kota?

"Itu bukan jalan pintas", jawabku dengan cepat.

"Oh, tidak apa-apa. Saya tidak buru-buru. Saya dalam perjalanan ke rumah perawatan", kata wanita itu.

Aku melihat di kaca spion. Matanya berkaca-kaca. "Saya tidak memiliki keluarga lagi," dia melanjutkan dengan suara yang pelan. "Dokter berkata bahwa saya tidak memiliki banyak waktu lagi", lanjutnya. Aku diam-diam mengulurkan tangan dan mematikan meteran tarif.

"Rute mana yang ingin Anda lewati?" Aku bertanya.

Selama dua jam berikutnya, kami berkeliling melewati kota. Dia memperlihatkanku sebuah gedung dimana dulu dia pernah bekerja sebagai operator lift. Lalu kami melewati daerah dimana dia dan suaminya pernah tinggal ketika mereka pengantin baru. Dia menyuruhku berhenti di depan sebuah gudang mebel yang pernah menjadi ballroom tempat ia pergi menari sebagai seorang gadis.

Terkadang dia memintaku untuk memperlambat taksi di depan sebuah bangunan atau sudut tertentu dan duduk menatap ke dalam kegelapan, tanpa mengatakan apa-apa.

Lalu tiba-tiba dia berkata, "Aku lelah, mari kita pergi sekarang." Kami melanjutkan perjalanan dengan keheningan ke alamat yang dia berikan sebelumnya. Akhirnya kami sampai. Itu adalah bangunan rendah, seperti rumah peristirahatan kecil, dengan jalan masuk yang lewat di bawah serambi.

Dua mantri keluar ke arah taksi segera setelah kami berhenti. Mereka cemas dan mengawasi setiap gerakan wanita itu. Mereka pasti sudah menunggunya.

Aku membuka bagasi, mengambil koper kecilnya dan membawanya sampai ke pintu. Wanita itu telah duduk di kursi roda.

"Berapa yang harus kubayar?" Kata wanita itu, sambil mengambil dompetnya.

"Tidak ada," kataku.

"Anda harus mencari nafkah," jawab wanita itu.

"Masih ada penumpang lainnya" balasku.

Hampir tanpa berpikir, aku membungkuk dan memberinya sebuah pelukan. Dia memelukku dengan erat.

"Anda telah memberikan seorang wanita tua sedikit momen bahagia," katanya. "Terima kasih," lanjutnya.

Aku memegang erat tangannya, dan kemudian berjalan ke dalam cahaya redup pagi itu. Di belakangku, sebuah pintu tertutup. Itu adalah suara penutupan kehidupan.

Aku tidak mencari penumpang lagi hari itu. Aku berkendara tanpa tujuan dan melamun. Di sisa hari itu, aku hampir tidak bisa berkata. Bagaimana jika wanita itu mendapati seorang supir taksi yang emosi, atau supir yang tidak sabar untuk mengakhiri giliran tugasnya? Bagaimana jika aku menolak mengantarnya, atau hanya menekan klakson satu kali, lalu pergi?

Aku tidak berpikir bahwa aku telah melakukan sesuatu yang lebih penting di dalam hidupku.

Kita dikondisikan untuk berpikir bahwa hidup kita berputar di sekitar momen-momen yang indah.

Tetapi momen-momen indah tersebut seringkali tidak kita sadari - keindahan yang terbungkus di dalamnya mungkin sering dipandang orang lain sebagai sebuah hal kecil.

Source: glocals

5/02/2012

Live Fish and Turtles Sold as Keychains in China


Di stasiun bawah tanah Sihui di Beijing, kura-kura jenis Brazilian & ikan hidup dijadikan gantungan kunci. Sovenir ini sangat ramai dibeli. Kelompok pelindung binatang memprotes dan melakukan pencekalan dan menyebut sovenir ini sebagai bentuk penyiksaan hewan yang murni. Sayangnya, belum ada hukum untuk perlindungan hewan yang bisa mencegah penjualan sovenir ini.

Gantungan ini berukuran panjang sekitar 7 cm berbentuk kapsul dari plastik yang berisi air berwarna-warni & juga terdapat seekor kura-kura Brazil atau 2 ekor ikan kecil jenis Kingfish di dalamnya. Si penjual menjelaskan bahwa air berwarna yang ada di dalam gantungan kunci itu memiliki semacam ‘gizi’, jadi hewan yang ada di dalamnya bisa bertahan hidup selama berbulan-bulan. Gantungan kunci ini laris bak kacang goreng, bahkan dalam 5 menit, 10 buah gantungan kunci sudah terjual.


Seorang pembeli berumur kira kira 30 tahun mengatakan gantungan kunci itu kelihatan cantik & bisa membawa keberuntungan. Memang di Cina, kura-kura merupakan salah satu hewan yang dianggap membawa keberuntungan. Tapi ada juga pembeli yang membeli gantungan kunci itu lalu melepaskan hewan di dalamnya karena merasa kasihan.

Menurut Mary Peng, pendiri International Center for Veterinary Services, ikan dan kura-kura tidak akan bertahan hidup lama di dalam kantong plastik yang tertutup rapat karena sudah pasti akan kehabisan oksigen. Kelompok perlindungan hewan menentang keras penjualan gantungan kunci ini. Direktur NGO Capital Animal Welfare Association, Qin Xiaona menyatakan bahwa menaruh benda hidup di dalam tempat kecil yang tersegel & terbatas untuk tujuan memperoleh keuntungan sangat tidak bermoral & benar-benar merupakan salah satu bentuk nyata penyiksaan terhadap binatang. Tapi, Cina hanya memiliki Wild Animal Protection Law. Jadi jika hewan-hewan tersebut bukan hewan liar, mereka tidak termasuk dalam cakupan undang-undang tersebut. Xiaona melanjutkan jika hukum perlindungan hewan tidak bisa diharapkan, maka secara mendesak, Cina perlu undang-undang baru yang mengatur undang-undang anti penyiksaan terhadap hewan. Sementara itu, Xiaona sibuk meminta orang-orang untuk tidak membeli gantungan kunci ini dengan alasan jika tidak ada yang membeli, pasar gantungan kunci ini akan mati & dengan sendirinya, produksi souvenir ini akan berhenti.

Source: satwaunik