Header

11/27/2011

The Man, The Boy, and The Donkey


Suatu hari, ada seorang ayah bersama dengan anaknya beserta seekor keledai, melakukan perjalanan dari kota ke kota. Tibalah mereka di kota A. Sang anak menaiki keledai, sedangkan ayahnya berjalan di sampingnya. Lalu orang–orang berkata, “Dasar anak yang tidak tahu diri, masa ayahnya disuruh jalan kaki.” Lalu mereka pun bertukar posisi dan melanjutkan perjalanan.

Sampailah mereka di kota B, dan orang-orang pun berkata, “Wah-wah… ayah yang kejam, masa anaknya dibiarkan jalan kaki begitu saja." Mereka pun kemudian berhenti dan berpikir sejenak dan akhirnya mereka sepakat menaiki keledai itu bersama-sama.

Sesampainya mereka di kota C, mereka kembali dicerca oleh orang-orang. “Dasar manusia yang tidak mempunyai perasaan! Masa keledainya disiksa dengan dinaiki berdua.” Kembali mereka merenung dan memutuskan untuk berjalan kaki sambil memegang tali keledainya.

Di kota D, mereka ditertawakan oleh orang-orang. “Hahaha.. ayah dan anak yang bodoh, masa punya keledai tapi tidak dimanfaatkan. Bodoh sekali.” Akhirnya mereka pun dibuat pusing akan perkataan orang-orang tersebut. Akhirnya mereka pun mengambil sebuah cara terakhir dengan menggotong keledai tesebut sambil melanjutkan perjalanan karena sudah tidak tahan dengan omongan orang lain.

Tibalah mereka di kota E dan orang-orang pun kembali mencerca mereka. “Dasar edan! Dunia sudah terbalik, masa keledai menunggangi manusia!”

Cerita diatas mengajarkan kita, dimanapun kita berada , kapanpun, siapapun kita, akan selalu ada pandangan dan komentar negatif dari orang-orang di sekitar terhadap kita, seberapa baik pun kelakukan kita. Ada 2 hal yang dapat kita petik dari cerita ini. Yang pertama adalah kita tidak dapat mengatur dan mengontrol apa yang dirasakan, dipikirkan dan dikatakan oleh orang lain. Yang kedua adalah kita tidak pernah dapat menyenangkan hati semua orang. Yang dapat kita lakukan adalah tetap berpikiran positif untuk menanggapi hal-hal tersebut. Gunakanlah untuk mengembangkan diri kita untuk menjadi yang lebih baik, segala sesuatu tergantung pada pikiran (mindset) kita sendiri.

Source: buddhistzone

11/26/2011

Feng Nao, The Umbrella Girl


Di tengah hujan badai, seorang gadis berperawakan langsing dengan sukarela memayungi pengemis tua yang cacat hingga setengah dari tubuhnya menjadi basah. Adegan ini tidak hanya terjadi di novel atau drama reality show rekayasa. Baru-baru ini, seorang netizen di Suzhou (Provinsi Jiangsudi Cina Timur) menangkap momen berharga ini dan memotret dengan kamarenya. Foto-foto ini menarik banyak netizen, dengan jumlah hits melebihi 24.000. bahkan dipromosikan ke homepage XiCi. Para netizen satu persatu memberikan pujian pada gadis ini dengan menyebutkan adegan ini sebagai adegan paling indah di tengah-tengah saat hujan lebat itu. Menurut investigasi reporter Express, orang pertama yang memposting foto-foto itu adalah Fengniao, yang mengingat keadaan itu sekaligus mengatakan: “Setelah memegangi payung (untuk sang pengemis tua yang lumpuh) dan sekembalinya dari itu, sesudahnya saya pikir gadis itu menangis.”


Seorang warga Tiongkok bernama Feng Nao adalah contoh nyata perbuatan mulai dan penuh cinta kasih dari seorang gadis cantik. Dalam foto-foto berikut ini menceritakan : Hujan lebat turun secara tiba-tiba. Seorang lelaki tua renta dan lumpuh tidak berdaya bergelut di tengah hujan lebat untuk menyeberang jalan dengan kereta kecilnya.

Ketika itu Feng Nao, seorang gadis cantik yang sedang membawa payung bergegas berlari di dalam hujan lebat untuk memberi perlindungan dan menjaga orang tua itu. Walaupun ternyata payung itu tidak cukup untuk melindungi diri orang tua itu dari basah akibat hujan lebat, namun gadis itu tetap berada di sisi lelaki tua itu di tengah derasnya curahan air hujan, dan ia manjadi adegan yang paling indah di tengah hujan lebat itu.


Seorang gadis yang menggerakkan hati orang, sebaliknya seorang pria berseragam (dalam lingkaran foto) yang membuat orang marah. Masih ada banyak orang baik, hanya saja kadang-kadang orang yang baik takut menjadi orang baik. Benarkah?
Tidak peduli apapun, yang jelas gadis itu telah berbuat baik dan masih memiliki kebaikan hati, di tengah masyarakat yang cenderung dingin, individualistis, dan serba acuh tak acuh. Gadis itu menunjukkan bagaimana sebuah harapan muncul di manapun dan kapanpun, bahkan di saat hujan badai sekalipun. Apakah hatinya menjadi dingin, sedingin tubuhnya yang dingin karena guyuran derasnya air hujan? Tidak, hatinya masih begitu hangat menyapa, tidak peduli badai menerpa, hatinya tetap hangat.


Kelihatan bahwa hujan lebat yang turun tiba-tiba menyebabkan lelaki tua yag lumpuh kakinya bergerak perlahan-lahan dengan kereta kayu kecilnya. Melihat keadaan ini, Feng Nao sambil memegang payung di tangannya bergegas melindunginya. Tetapi payung itu benar-benar tidak mampu secara keseluruhan melindungi lelaki tua itu dari terpaan hujan lebat.


Terima kasih untuk sebuah kehangatan hati, sebuah tindakan yang semoga dapat membuat hati kita tergerak untuk melihat keadaan sekitar kita.

Source: dhammavijja

11/23/2011

Flight Attendant Diary - The Story


Seorang ayah tua yang datang dari desa, membopong sekantung ketela merah kering menempuh jarak jauh pergi menjenguk anaknya yang sedang kuliah di Beijing, tindak tanduknya selama di pesawat telah membuat seorang pramugari yang baik hati menjadi terenyuh. Pramugari tersebut menuliskan rasa harunya itu ke dalam buku harian dan disebar luaskan di internet, “Buku Harian Sang Pramugari” ini dengan cepat telah membuat puluhan ribu Netter terharu…

Saya adalah seorang pramugari biasa dari Eastern Airlines, karena masa kerja saya belum lama, jadi belum menjumpai masalah besar yang tidak bisa dilupakan, setiap hari terlewati dengan hal-hal kecil yaitu menuangkan air dan menyuguhkan teh. Tidak ada kegairahan dalam bekerja, sangatlah hambar.

Tapi hari ini, tanggal 7 Juni, saya telah menjumpai suatu kejadian yang merubah pemikiran saya terhadap pekerjaan dan pandangan hidup.

Hari ini kami melakukan penerbangan dari Shanghai ke Beijing, penumpang saat itu sangat banyak, satu unit pesawat terisi penuh.

Di antara rombongan orang yang naik pesawat ada seorang paman tua dari desa yang tidak menarik perhatian, dia membopong satu karung goni besar di punggungnya, dengan membawa aroma tanah yang khas dari pedesaan.

Saat itu saya sedang berada di depan pintu pesawat untuk menyambut para tamu, pikiran pertama yang menghampiri saya saat itu adalah masyarakat sekarang ini sudah sangat makmur, bahkan seorang paman tua dari desa pun memiliki uang untuk naik pesawat, sungguh royal.

Ketika pesawat sudah mulai terbang datar, kami mulai menuangkan air, hingga tiba di baris kursi ke 20-an, terlihat paman tua tersebut, dia duduk dengan sangat hati-hati, tegak tidak bergerak sama sekali, karung goninya juga tidak diletakkan di tempat bagasi bawaan, tingkah si paman tua itu menggendong karung goni besar sekilas seperti rak penyangga bola dunia (globe), tegak seperti patung.

Saat ditanya mau minum apa, dengan gugup dia menggoyang-goyangkan tangannya dan berkata tidak mau. Saat hendak dibantu untuk menyimpan karungnya di tempat bagasi dia juga menolak. Terpaksa kami biarkan dia menggendong karung tersebut.

Beberapa saat kemudian tiba waktunya untuk membagikan makanan, kami mendapatkan bahwa dia masih duduk dengan tegak dan tidak bergerak sama sekali, kelihatannya sangat gelisah, saat diberi nasi, dia tetap saja menggoyangkan tangannya menolak tanda tidak mau.

Karenanya kepala pramugari datang menghampirinya dengan ramah menanyakan apakah dia sedang sakit. Dengan suara lirih dia berkata ingin ke toilet tapi dia tidak tahu apakah boleh berkeliaran di dalam pesawat, dia takut merusak barang-barang yang ada di dalam pesawat.

Kami memberitahu dia tidak ada masalah dan menyuruh seorang pramugara mengantarkannya ke toilet. Saat menambahkan air untuk kedua kalinya, kami mendapati dirinya sedang mengamati penumpang lain minum air sambil terus menerus menjilat-jilat bibirnya sendiri, karenanya kami lantas menuangkan secangkir teh hangat dan kami letakkan di atas mejanya tanpa bertanya kepadanya.

Siapa sangka tindakan kami ini membuat ia sangat ketakutan dan berkali-kali ia mengatakan tidak perlu, kami pun berkata kepadanya minumlah jika sudah haus. Mendengar demikian dia melakukan tindakan yang jauh lebih mengejutkan lagi, buru-buru dia mengambil segenggam uang dari balik bajunya, semuanya berupa uang koin satu sen-an, dan disodorkan kepada kami.

Kami mengatakan kepadanya bahwa minuman ini gratis, dia tidak percaya. Dia sepanjang perjalanan beberapa kali ia masuk ke rumah orang untuk meminta air minum tetapi tidak pernah diberi, bahkan selalu diusir dengan penuh kebencian.

Akhirnya kami baru mengetahui ternyata demi menghemat uang, sepanjang perjalanannya ia sebisa mungkin tidak naik kendaraan dan memaksakan diri berjalan kaki hingga mencapai kota terdekat dengan bandara, barulah dia naik taksi ke bandara, bekal uangnya tidak banyak, maka dia hanya bisa meminta air minum dari depot ke depot sepanjang perjalanan yang dilewatinya. Sayang sekali dia sering sekali diusir pergi, orang-orang menganggapnya pengemis.

Kami menasihatinya selama beberapa waktu lamanya hingga akhirnya dia mau mempercayai kami, duduk, lalu perlahan-lahan meminum tehnya. Kami menanyakan apakah dia lapar, maukah memakan nasi, dia masih tetap saja mengatakan tidak mau.

Dia bercerita bahwa ia memiliki 2 orang putra, keduanya bisa diandalkan dan sangat berguna, keduanya diterima di perguruan tinggi, yang bungsu sekarang kuliah di semester 6, sedangkan si sulung telah bekerja.

Kali ini dia ke Beijing menjenguk anak bungsunya yang sedang kuliah. Karena anak sulung sudah bekerja bermaksud menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersamanya di kota, akan tetapi kedua orang tuanya tidak terbiasa, mereka hanya menetap beberapa waktu lamanya lalu kembali lagi ke desa.

Kali ini karena anak sulungnya tidak ingin sang ayah susah payah naik angkutan, maka dibelikanlah tiket pesawat khusus bagi ayahnya dan bermaksud menemani ayahnya untuk berangkat bersama dengan pesawat karena sang ayah tidak pernah menumpang pesawat sebelumnya, ia sangat khawatir ayahnya tidak mengenali jalan. Akan tetapi ayahnya mati-matian tidak mau naik pesawat karena beranggapan bahwa hal tersebut adalah suatu pemborosan.

Akhirnya setelah bisa dinasihati sang ayah tetap bersikukuh untuk berangkat sendirian, tidak mau anaknya memboroskan uang untuk membeli selembar tiket lagi.

Dia membopong sekarung ketela merah kering yang diberikan pada anak bungsunya. Ketika pemeriksaan sebelum naik ke pesawat, petugas mengatakan bahwa karungnya itu terlalu besar, dan memintanya agar karung itu dimasukkan ke bagasi, namun dia mati-matian menolak, dia bilang takut ketelanya hancur, jika hancur anak bungsunya tidak mau makan lagi. Kami memberitahu dia bahwa barang bawaannya aman jika disimpan disitu, dia berdiri dengan waspada dalam waktu lama, kemudian baru diletakkannya dengan hati-hati.

Selama dalam perjalanan di pesawat kami sangat rajin menuangkan air minum untuknya, dan dia selalu dengan sopan mengucapkan terima kasih. Tapi dia masih bersikukuh tidak mau makan. Walaupun kami tahu perut si paman tua sudah sangat lapar. Sampai menjelang pesawat akan mendarat, dia dengan sangat berhati-hati menanyakan kepada kami apakah kami bisa memberikan sebuah kantongan kepadanya, yang akan digunakan untuk membungkus nasi jatahnya tersebut untuk dia bawa pergi.

Dia bilang selama ini dia tidak pernah mendapatkan makanan yang begitu enak, dan dia akan bawakan makanan itu untuk diberikan kepada anak bungsunya. Kami semua sangat terkejut.

Bagi kami nasi yang kami lihat setiap hari ini, ternyata begitu berharganya bagi seorang kakek tua yang datang dari desa ini.

Dia sendiri enggan untuk makan, dia menahan lapar, demi untuk disisakan bagi anaknya. Oleh karena itu, seluruh makanan yang sisa yang tidak terbagikan kami bungkus semuanya untuk diberikan kepadanya agar dibawa. Lagi-lagi dia menolak dengan penuh kepanikan, dia bilang dia hanya mau mengambil jatahnya saja, dia tidak mau mengambil keuntungan dari orang lain. Kami kembali dibuat terharu oleh paman tua ini.

Meskipun bukan suatu hal yang besar, akan tetapi bagi saya ini adalah suatu pelajaran yang sangat mendalam.

Tadinya saya berpikir bahwa kejadian ini sudah selesai sampai disini saja, siapa tahu setelah para tamu lainnya sudah turun dari pesawat, tinggallah paman tua itu seorang diri, kami membantunya membawakan karung goninya sampai ke pintu keluar, saat kami akan membantunya menaikkan karung goni tersebut ke punggungnya, mendadak paman tua itu melakukan suatu tindakan yang tak akan pernah saya lupakan seumur hidup: dia berlutut di atas tanah, lalu dengan air mata berlinang dia bersujud kepada kami dan mengatakan, “Kalian semua sungguh adalah orang-orang yang baik, kami orang desa sehari hanya bisa makan nasi satu kali, selama ini kami belum pernah minum air yang begitu manis, tidak pernah melihat nasi yang begitu bagus, hari ini kalian bukan saja tidak membenci dan menjauhi saya, malah dengan ramah melayani saya, sungguh saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih kepada kalian, saya hanya bisa berharap kalian orang-orang yang baik suatu hari nanti akan mendapatkan balasan yang baik”.

Sambil tetap berlutut, sambil berkata seperti itu, sambil menangis, kami semua buru-buru memapahnya untuk berdiri, sambil tiada hentinya menasihatinya dan menyerahkannya kepada seorang penjaga yang bertugas untuk membantunya, setelah itu kami baru kembali ke pesawat untuk melanjutkan pekerjaan kami.

Terus terang saja, selama 5 tahun saya bekerja, di dalam pesawat saya telah menemui berbagai macam penumpang, ada yang tidak beradab, ada yang main pukul, juga ada yang berbuat onar tanpa alasan, tapi kami tidak pernah menjumpai orang yang berlutut kepada kami, terus terang kami juga tidak melakukan hal yang khusus kepadanya, hanya menuangkan air agak sering untuk beliau, hal ini telah membuat seseorang yang telah berumur 70 tahun lebih berlutut untuk berterima kasih kepada kami, lagi pula melihat dia memanggul satu karung ketela merah kering, dia sendiri rela tidak makan dan menahan lapar demi membawakan anaknya nasi yang dibagikan di pesawat, juga tidak mau menerima nasi jatah milik orang lain yang bukan menjadi miliknya, tidak serakah, saya sungguh merasakan penyesalan yang amat mendalam, lain kali saya harus bisa belajar berterima kasih, belajar membalas budi orang lain.

Adalah paman tua ini yang telah mengajarkan kepada saya, bagaimana saya harus hidup dengan penuh kebajikan dan kejujuran.

Source: theepochtimes

Christian The Lion - The Story


Christian, adalah seekor singa yang menjadi korban kejahatan pemburu gelap yang kemudian diperdagangkan di blackmarket. Sedangkan nasib ibu atau saudara Christian tidak diketahui, apakah mereka juga ikut tertangkap, mati terbunuh atau sudah terjual. Pada tahun 1969, Anthony Bourke dan John Rendall, dua orang sahabat, terkejut ketika menemukan seekor anak singa berusia 6 bulan di toko binatang Harrods yang sedang kesepian.

Kondisi bayi singa itu sungguh menyedihkan. Si singa kecil dikurung didalam sebuah jeruji yang sangat kecil. Suara parau sang singa kecil menyentuh hati kedua pemuda ini dan lalu mereka membelinya dan memberikan nama Christian pada bayi singa itu. Mereka bertiga akhirnya tinggal disebuah rumah di London.

Mereka pun memperlakukan Christian seperti layaknya sahabat. Mereka bermain bola bersama, makan bersama, nonton bersama dan jalan-jalan bersama. Mereka menjadi tiga sosok sahabat yang tidak terpisahkan.


Sembilan bulan telah berlalu, Christian telah menjelma menjadi singa dewasa dan lingkungan rumah mereka yang kecil tidak cocok lagi untuk Christian untuk berlari-lari bebas seperti halnya waktu ia kecil dahulu. Ditambah lagi dengan tetangga yang resah dan ketakutan melihat sosok seekor singa jantan besar berlarian dilingkungan mereka.

Walaupun sedih, Anthony dan John memutuskan untuk mengembalikan Christian ke Kenya, Afrika, di bawah pengawasan ahli hewan buas untuk mengembalikan sifat alami Christian dari “sahabat manusia” menjadi hewan buas. Jika tidak, Christian tidak akan dapat bertahan di alam liar.


Setelah satu tahun lebih mereka berpisah, akhirnya John dan Anthony memutuskan untuk mengunjungi Christian di Afrika. Ahli singa dan pengurus hutan lindung di Afrika mengatakan bahwa Christian sudah hidup bersama singa-singa lainnya dan menjadi liar. Dan pengurus hutan lindung itu juga mengatakan kalau Christian tidak akan mengenali John Rendall dan Anthony. Mereka semua melarang mereka untuk menemui Christian, Karena singa itu tidak akan mengingat mereka lagi dan tentu saja akan mengakibatkan kematian terhadap mereka berdua.

Anthony dan John tidak perduli. Mereka percaya, ikatan persahabatan yang terjalin diantara mereka bertiga sangat dalam. Christian tidak akan menyerang mereka. Christian pasti tetap mengingat mereka berdua.Akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat ke hutan Afrika dan mencari Christian. Salah satu orang teman mereka tertarik dengan kejadian ini dan ikut bersama mereka untuk merekam pertemuan ini.

Setelah berjam-jam pencarian, akhirnya mereka menemukan Christian di dekat daerah pegunungan. Teman John dan Anthony yang merekam kejadian ini menahan nafas tegang ketika ia melihat sesosok singa jantan besar yang berlari menuruni batu-batuan disana dan berlari kearah mereka. Hanya John dan Anthony saja yang bersikap santai dan tersenyum lebar seolah-olah menyambut teman lama mereka.

Sesuai dengan dugaan John dan Anthony, Christian tidak melupakan mereka. Christian terlihat sangat gembira melihat dua wajah manusia yang sangat ia cintai itu. Christian bergantian memeluk dan mencium wajah John dan Anthony bertubi-tubi sebagaimana kebiasaannya ketika ia kecil dahulu. Ketiga sahabat dekat itu akhirnya bertemu kembali dan mereka bercengkerama satu sama lainnya selama berjam-jam dan kemudian berpisah lagi.

Berikut video pertemuan mereka.

Source: maskolis, youtube

Dong Xinyi, 3 Year Old Girl Nurses Paralysed Dad


Kisah seorang anak merawat ayahnya yang lumpuh sebelumnya sudah pernah saya tulis disini. Ketika saya browsing di internet kebetulan menemukan satu lagi kisah yang tak kalah mengharukan. Kisah seorang balita perempuan yang baru berusia tiga tahun menjadi tumpuan hidup sang ayah setelah ia mengalami kecelakaan dan tak bisa lagi berjalan. Seperti dilansir China News, Senin (20/12/2010), balita bernama Dong Xinyi merawat sang ayah, Dong Jian (26) dan juga membersihkan kotorannya.


Xinyi lahir di sebuah keluarga petani di Kota Huanghia di Provinsi Shandong, China, tahun 2007. Beberapa bulan kemudian, sang ibu meninggalkan rumah dan membawa Xinyi setelah Dong Jian mengalami lumpuh akibat kecelakaan. Namun, awal tahun ini, sang ibu mengirimkan Xinyi kembali ke sang ayah. Tidak diketahui mengapa ia melakukan hal itu. Hanya saja, sejak saat itu ia kemudian merawat sang ayah.


"Ia segalanya bagi saya. Setelah kecelakaan, istri meninggalkan saya. Ayah dan ibu tiri saya bahkan tidak peduli. Saya bahkan pernah berpikir untuk bunuh diri," katanya.


"Namun, kini Xinyi adalah di sini dan saya sangat kagum pada dirinya," katanya. Tidak jelas, bagaimana sang ayah dan anak perempuannya memperoleh uang untuk biaya hidup.

Source: whatsonxiamen, maskolis

11/06/2011

25 Years of Sir Alex Ferguson's Fairytale


Sir Alex Ferguson mengakui bahwa 25 tahun masa baktinya di Manchester United telah menjadi sebuah dongeng. Fergie merayakan 25 masa baktinya hari ini 6 November 2011 setelah ditunjuk menjadi pelatih tahun 1986 dan bersumpah akan terus melanjutkan pekerjaannya selama kesehatan memungkinkannya.

"Ini merupakan sebuah mantra yang fantastis bagi saya dan sesuatu yang Anda pikir tidak akan terjadi" kata Fergie. "Sudah sedikit dongeng yang bertahan begitu lama dan saya menghargai itu."

"Saya sudah sangat beruntung memiliki beberapa pemain terbaik, dan ketika saya melihat kembali pada pemain-pemain tersebut saya berpikir bahwa betapa beruntungnya saya. Sangat luar biasa jika Anda melihat siapa yang pernah ada di sini - Bryan Robson, Norman Whiteside, Brian McClair, Mark Hughes, Paul Ince, Roy Keane, Eric Cantona, David Beckham, Paul Scholes, Ryan Giggs, Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney. Sungguh sebuah koleksi pemain fantastis."

"Sulit untuk berpikir bahwa saya mengontrol semua pemain ini untuk waktu yang begitu lama. Saat ini, kami memiliki begitu banyak pemain dengan kepribadian yang berbeda dari budaya yang berbeda."

Sir Alex Ferguson terkenal dengan instingnya yang tajam ketika merekrut seorang pemain, bahkan pemain yang sebelumnya tidak dikenal media mampu diubah menjadi seorang superstar. Cristiano Ronaldo dapat dijadikan salah satu contoh tajamnya insting seorang Sir Alex Ferguson. Selain itu terdapat juga beberapa pemain dengan perekrutan tersukses seperti Javier Hernandez, Nemanja Vidic, Patrice Evra, Edwin Van Der Sar, Wayne Rooney, Rio Ferdinand, Ruud Van Nistelrooy, Dwight Yorke, Jaap Stam, Teddy Sheringham, Ole Gunnar Solskjaer, Andy Cole, Roy Keane, Eric Cantona, Andrei Kanchelskis, Peter Schmeichel, Dennis Irwin, Paul Ince, Gary Pallister, Mark Hughes, Lee Sharpe, Steve Bruce, dan Brian McClair.

Manchester United di bawah asuhan Fergie juga terkenal dengan produk akademi MU yang biasa disebut "Class of 92". Paul Scholes, Ryan Giggs, David Beckham, Gary dan Phil Neville, Nicky Butt adalah bagian dari Class of 92 tersebut.

"Class of 1992 tidak akan hanya ada 1," kata Fergie. "Hal ini akan terjadi lagi. Sebuah klub seperti Manchester United akan selalu mengejar impian dan akan mendapatkan sekelompok pemuda seperti mereka lagi."

Atas jasanya selama 25 tahun ini, Sir Alex Ferguson diberi "kejutan" saat Manchester United menghadapi Sunderland kemarin. Sir Alex Ferguson menerima penghargaan yang sangat istimewa untuk masa baktinya selama 25 tahun dari Manchester United, yaitu namanya diabadikan menjadi nama salah satu stand di Old Trafford.


Stand yang biasa dikenal dengan sebutan North Stand sekarang dikenal sebagai Sir Alex Ferguson Stand. Ini pertama kalinya dalam sejarah 101 tahun berdirinya Old Trafford nama stand diganti menjadi nama seseorang. Sungguh sebuah kehormatan tentunya.

"Saya akan terus berada di sini selama saya merasa cukup sehat untuk melakukan pekerjaan ini" tegasnya. "Dalam manajemen, hal-hal berubah seperti tahun-tahun yang berlalu. Sekarang sangat berbeda dengan tujuh atau delapan tahun yang lalu. Banyak hal telah berubah."


Berikut beberapa komentar dari berbagai pihak tentang 25 tahun masa bakti Fergie:

"I want to congratulate him. When somebody has spent 25 years at a team like Manchester [United], the only thing you can do is stand up and take your hat off."
Pep Guardiola (Barcelona Coach)

"Saya ingin memberikan ucapan selamat kepadanya. Ketika seseorang menghabiskan waktu 25 tahun untuk sebuah tim seperti Manchester United, satu hal yang Anda bisa lakukan adalah berdiri dan angkat topi Anda."
Pep Guardiola (Pelatih Barcelona)


"Sir Alex has a special place in my life. In fact, he was the main man. I was not famous, I was not a star. I arrived at Old Trafford as just another young talent. He was the one who told me to do all the right things. He gave me the opportunity to play in one of the biggest clubs in the world. So he is one of the most important people in the world for me."
Cristiano Ronaldo (Real Madrid Player)


"Sir Alex memiliki bagian yang spesial di hidupku. Faktanya, dia adalah aktor utama. Saya tidak terkenal, saya bukan seorang bintang. Saya tiba di Old Trafford sebagai seorang pemuda. Dia yang mengatakan kepadaku untuk melakukan sesuatu yang benar. Dia memberikan ku kesempatan untuk bermain di salah satu klub terbesar di dunia. Jadi, dia adalah salah satu orang terpenting untukku di dunia ini."
Cristiano Ronaldo (Pemain Real Madrid)


"You see so many young players fall by the wayside but under the boss that was never going to happen. He looked after us all and gave us everything we needed to become the players and the men that we are today."
David Beckham (LA Galaxy Player)

"Anda melihat begitu banyak pemain muda jatuh tetapi di bawahnya itu tidak akan terjadi. Dia mengamati kami semua dan memberikan kami semua yang kami butuhkan untuk menjadi pemain dan menjadi pria seperti kami sekarang ini."


"Sir Alex is a unique manager in the history of Manchester United. Sir Alex is a unique manager in the history of English football. And Sir Alex is a unique manager in the history of European football. I really wish he stays in the job with the same happiness and ambition for many, many more years."
Jose Mourinho (Real Madrid Coach)

"Sir Alex adalah seorang manager yang unik dalam sejarah Manchester United. Sir Alex adalah seorang yang unik dalam sejarah sepakbola Inggris. Dan Sir Alex adalah seorang yang unik dalam sejarah sepakbola Eropa. Saya sangat mengharapkan dia tetap dengan pekerjaannya dengan kebahagiaan yang sama dan ambisi untuk tahun-tahun ke depannya."
Jose Mourinho (Pelatih Real Madrid)


"It is exceptional as well because I don't know anybody at the top level who has done 25 years at the top level with the same club. Certainly never anybody will do it again."
Arsene Wenger (Arsenal Coach)

"Itu adalah sebuah pengecualian karena saya tidak pernah mengetahui sesorang pada level tertinggi yang telah melakukannya selama 25 tahun di level tertinggi dengan klub yang sama. Tentu tidak akan pernah ada seseorang yang melakukannya lagi."
Arsene Wenger (Pelatih Arsenal)

Source: manutd.com, sport360.com, goal.com