Header

12/02/2011

The Power of "Because"


Penelitian pada tahun 1978 oleh Ellen Langer dan beberapa koleganya menemukan bahwa kata "karena" memiliki kekuatan yang luar biasa. Mereka memutuskan untuk menempatkan kekuatan persuasif dari kata ini dalam suatu percobaan. Dalam satu studi, Langer mengatur agar seorang yang tidak dikenal untuk mendekati beberapa orang yang sedang berbaris menunggu antrian untuk menggunakan mesin fotokopi dan bertanya, "Maaf, saya hanya memiliki 5 lembar. Bolehkah saya memfotokopi terlebih dahulu?" Berhadapan dengan permintaan langsung untuk memotong antrian, 60 persen orang-orang tersebut mempersilahkan orang tidak dikenal itu untuk memfotokopi terlebih dahulu. Namun, ketika orang tidak dikenal itu membuat permintaan dengan alasan, "Maaf, bolehkah saya menggunakan mesin fotokopi terlebih dahulu karena saya sedang buru-buru?" Hampir semua orang (94 persen) mengizinkannya memfotokopi terlebih dahulu.

Di sinilah penelitian menjadi sangat menarik. Kali ini, orang tidak dikenal tersebut juga menggunakan kata "karena" tetapi diikuti dengan sebuah alasan yang benar-benar tidak berarti. Orang tersebut berkata, "Maaf, bolehkah saya menggunakan mesin foto kopi terlebih dahulu karena saya harus memfotokopi?" Dan hasilnya adalah 93 persen orang mengizinkannya memfotokopi terlebih dahulu.

Alasan yang sangat konyol tentunya. Setiap orang tahu mesin fotokopi adalah untuk memfotokopi. Lantas mengapa alasan itu sangat efektif? Penyebabnya adalah kata "karena" memicu penerimaan tak sadar orang bahwa penjelasan yang mengikutinya adalah valid. Kita mendengar sesuatu dan kita nyaris selalu memiliki respon Pavlovian dalam menerimanya. Respon Pavlovian adalah teori dari Fisiolog Rusia, Ivan Petrovich Pavlov tentang anjing. Sebelum memberi makan anjing, Pavlov selalu membunyikan bel. Akhirnya anjing-anjing itu selalu mengeluarkan air liur jika mendengar bunyi bel, meskipun tidak ada makanan. Entah kalimat setelah kata "karena" itu masuk akal ataukah tidak, kita menganggapnya masuk akal dan karenanya kita tidak mau bersusah-susah memproses penjelasan yang mengikutinya.

Source: marginalrevolution

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Leave your comment here...

Ada kesalahan di dalam gadget ini