Header

6/16/2011

Floating photographer captures herself ‘levitating’


Natsumi Hayashi, seorang fotografer asal Jepang memiliki keunikan tersendiri. Potret dirinya sangat aneh dan tak terlupakan serta memicu sensasi di internet dan mengumpulkan perhatian orang-orang di seluruh dunia.

"Aku mendapatkan sebuah ide dari idiom Inggris yang mengatakan 'Untuk mendapatkan sebuah kaki yang tertanam kuat di tanah, jadilah seorang yang praktis'" Kata Hayashi di dalam sebuah wawancara.

"Di Jepang, kami memiliki idiom yang sama. Tetapi aku bukanlah orang yang praktis. Oleh karena itu, aku mencoba untuk tidak menanamkan kakiku di tanah dalam potret diriku untuk menunjukkan diriku yang sebenarnya."


"Terkadang aku harus melompat lebih dari 300 kali untuk mendapatkan hasil foto yang sempurna" Hayashi katakan. "Aku men-set kameraku dengan shutter speed 1/500 detik atau lebih cepat untuk menangkap gerakan melompatku"


Dapat memakan waktu sekitar 10 sampai 60 menit untuk mendapatkan foto yang diinginkan. Terkadang dia bekerja sendiri dan bergantung pada self-timer kameranya, dalam kasus lain, dia meminta temannya untuk membantu dan menekan shutter-nya.

Hayashi telah bergelut di dunia fotografi selama 2 tahun sebagai seorang asisten artis. Dia mengatakan inspirasi ini didapatkan dari foto tua dari abad ke-19.

Source: msn.com

6/15/2011

10 awesomely untranslatable words from around the world


Ada lebih dari 250.000 kata dalam bahasa Inggris. Bagaimanapun, untuk berpikir bahwa bahasa Inggris atau bahasa lainnya cukup dapat mengekspresikan keseluruhan pengalaman manusia adalah asumsi yang naif. Berikut adalah beberapa contoh kejadian di mana bahasa lain telah menemukan kata yang tepat dan tidak dapat diartikan ke dalam bahasa Inggris.
1. Toska
Bahasa Rusia - dideskripsikan sebagai rasa sakit yang luar biasa, yaitu penderitaan rohani yang besar, kegelisahan yang samar-samar, pergolakan jiwa, kerinduan, dan lain-lain.

2. Mamihlapinatapei
Yagan (Bahasa asli Tierra del Fuego) – dideskripsikan sebagai tanpa kata, namun bermakna terlihat bersama oleh dua orang yang memiliki keinginan untuk memulai sesuatu, tapi keduanya enggan untuk memulai.

3. Jayus
Bahasa Indonesia – dideskripsikan sebagai sebuah lelucon yang sangat tidak lucu, garing yang membuat seseorang tidak dapat tertawa namun terpaksa tertawa.

4. Iktsuarpok
Inuit – menerangkan "Pergi ke luar untuk memeriksa apakah ada orang yang datang."

5. Kyoikumama
Bahasa Jepang – dideskripsikan sebagai seorang ibu yang terus menerus mendorong anaknya menuju prestasi akademik.

6. Torschlusspanik
Bahasa Jerman – diartikan sebagai "kepanikan yang luar biasa" namun makna kontekstualnya adalah ketakutan berkurangnya kesempatan sebagai satu usia."

7. Dépaysement
Bahasa Prancis – diartikan sebagai perasaan yang muncul dari tidak berada di negara asal seseorang.

8. Tingo
Pascuense (Easter Island) – diartikan sebagai tindakan mengambil objek dari rumah seorang teman secara bertahap dengan cara meminjam kesemuanya.

9. L’appel du vide
Bahasa Prancis – menggambarkan dorongan naluriah untuk melompat dari tempat tinggi.

10. Wabi-Sabi
Bahasa Jepang – dideskripsikan sebagai cara hidup yang fokus pada menemukan keindahan dalam ketidaksempurnaan kehidupan dan menerima damai siklus alami pertumbuhan dan pembusukan.

Source: stumbleupon.com

6/14/2011

A Dented Coin - The Story


Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.

“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.

Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.

Ada banyak pesan yang dapat kita dapatkan dari cerita ini. Bila kita sadar kita tidak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan? Sebaliknya, sewajarnya kita bersyukur atas segala karunia hidup yang telah Tuhan berikan pada kita, karena ketika datang dan pergi kita tidak membawa apa-apa.

Selain pesan tersebut ada 1 kalimat bijak yang dapat saya berikan untuk menggambarkan kisah di atas, yaitu "Just pretend everything is okay so no one has to worry about you."