Source: yahoo
9/11/2012
9/11 Memorable Moment Photos
Source: yahoo
9/10/2012
Yangtze River Water Turns Bright Red
"Wow, Sungai Yangtze terlihat seperti sungai merah sekarang!" Kemarin, di dermaga Chaotianmen dari Sungai Yangtze di Chongqing, banyak wisatawan menemukan warna Sungai Yangtze menjadi merah. Departemen perlindungan lingkungan berspekulasi bahwa hal ini mungkin dikarenakan pasir sungai yang dibawa dari hulu selama musim banjir.
Kemarin sore, Staf Biro Perlindungan Lingkungan Distrik Yuzhong dan Distrik Banan mengatakan kepada wartawan bahwa sungai di Chongqing memang lebih merah dari biasanya, namun setelah diselidiki, tidak ditemukan adanya pembuangan limbah ilegal di sekitar wilayah pesisir. Penyebab spesifiknya masih dalam penyelidikan.
Air Sungai Yangtze berwarna merah menyatu dengan Air Sungai Jialing berwarna kuning.
6 September, di Dermaga Chaotianmen, Mr Chen, seorang pengunjung dari Shaanxi mengisi botol air dengan air Yangtze Sungai merah.
9/05/2012
Ashiato, Animal Footprint Kids Sandals
"Ashiato" memiliki arti jejak kaki dan akan memastikan Anda meninggalkan jejak-jejak kaki yang menarik di atas pasir ataupun pantai dengan menggunakan sandal untuk anak-anak ini. Sandal kayu dengan desain berwarna-warni ini sempurna digunakan saat berada di pantai dan memiliki lima jenis, masing-masing dengan warna mereka dan jejak kaki makhluk yang berbeda.
Anda dapat memilih mulai dari sandal monyet berwarna orange, burung hantu berwarna kuning, kucing berwarna pink, tokek berwarna biru, atau bahkan hewan prasejarah tyrannosaurus berwarna hijau. Masing-masing memiliki jejak tersendiri, mulai dari cakar kucing sampai jejak kaki tokek. Terdapat juga 4 jenis ukuran untuk anak-anak dari segala umur sehingga mereka dapat berteriak "Lihat, Ma, Saya seekor dinosaurus!" "Sekarang saya seekor monyet!
Desain: Monyet (oranye), tyrannosaurus (turquoise), burung hantu (kuning), kucing (pink), tokek (biru)
Ukuran: XS, S, M atau L
XS: 80 x 160mm (3.1 x 6.3 ")
S: 90 x 180mm (3,5 x 7,1 ")
M: 100 x 200mm (3,9 x 7,9 ")
L: 110 x 220mm (4,3 x 8,7 ")
Bahan: pinus, karet (tali)
Source: japantrendshop
This Too Will Pass
Dalam kehidupan masyarakat modern saat ini, kebanyakan orang ketika menghadapi sebuah masalah kehidupan selalu terpuruk dalam keadaaan tertekan atau yang kita sebut “Stress” ataupun ketika mereka sedang mendapatkan rezeki mereka tenggelam di dalam “Kesenangan”.
Sesungguhnya semua itu hanyalah keadaan sesaat dan semua itu pasti akan berlalu. Oleh karena itu yang harus kita jaga adalah keseimbangan batin kita agar kita dapat hidup damai, bahagia dan tenteram. Seperti contoh cerita dibawah ini.
Seorang petani kaya mati meninggalkan kedua putranya. Sepeninggal ayahnya, kedua putra ini hidup bersama dalam satu rumah. Sampai suatu hari mereka bertengkar dan memutuskan untuk berpisah dan membagi dua harta warisan ayahnya. Setelah harta terbagi, masih tertingal satu kotak yang selama ini disembunyikan oleh ayah mereka.
Mereka membuka kotak itu dan menemukan dua buah cincin di dalamnya, yang satu terbuat dari emas bertahtakan berlian dan yang satu terbuat dari perunggu murah.
Melihat cincin berlian itu, timbullah keserakahan sang kakak, dia menjelaskan, “Kurasa cincin ini bukan milik ayah, namun warisan turun-temurun dari nenek moyang kita. Oleh karena itu, kita harus menjaganya untuk anak-cucu kita. Sebagai saudara tua, aku akan menyimpan yang emas dan kamu simpan yang perunggu.”
Sang adik tersenyum dan berkata, “Baiklah, ambil saja yang emas, aku ambil yang perunggu.” Keduanya mengenakan cincin tersebut di jari masing-masing dan berpisah. Sang adik merenung, “Tidak aneh kalau ayah menyimpan cincin berlian yang mahal itu, tetapi kenapa ayah menyimpan cincin perunggu murahan ini?”
Dia mencermati cincinnya dan menemukan sebuah kalimat terukir di cincin itu “INI PUN AKAN BERLALU”. “Oh, rupanya ini mantra ayah” gumamnya sembari kembali mengenakan cincin tersebut.
Kakak-beradik tersebut mengalami jatuh bangunnya kehidupan. Ketika panen berhasil, sang kakak berpesta pora, bermabuk - mabukan, lupa daratan. Ketika panen gagal, dia menderita tekanan batin, tekanan darah tinggi, hutang sana-sini.
Demikian terjadi dari waktu ke waktu, sampai akhirnya dia kehilangan keseimbangan batinnya, sulit tidur, dan mulai memakai obat-obatan penenang. Akhirnya dia terpaksa menjual cincin berliannya untuk membeli obat-obatan yang membuatnya ketagihan.
Sementara itu, ketika panen berhasil sang adik justru mensyukurinya, tetapi dia teringatkan oleh cincinnya “INI PUN AKAN BERLALU”. Jadi dia pun tidak menjadi sombong dan lupa daratan.
Ketika panen gagal, dia juga ingat bahwa “INI PUN AKAN BERLALU”, jadi ia pun tidak larut dalam kesedihan. Hidupnya tetap saja naik-turun, kadang berhasil, kadang gagal dalam segala hal, namun dia tahu bahwa tiada yang kekal adanya. Semua yang datang, hanya akan berlalu. Dia tidak pernah kehilangan keseimbangan batinnya, dia hidup tenteram, hidup seimbang, hidup bahagia.
Inilah hidup sebagai manusia seperti rumput di padang yang mati dan berganti setiap waktu. Relasi bisa datang dan pergi tanpa pernah bisa berhenti. Kemanusiaan yang terbatasi oleh banyak hal. “Semuanya pasti akan berlalu”.
Source: buddhistzone
8/31/2012
3 Magic Words - The Story
Kisah ini terjadi di sebuah pesta perpisahan sederhana tentang pengunduran diri seorang direktur.
Diadakanlah sebuah sesi acara penyampaian pesan, kesan & kritikan dari anak buah kepada Sang Direktur yang akan segera memasuki masa pensiun.
Karena waktu terbatas, kesempatan pernyataan tersebut dipersilahkan dalam bentuk tulisan. Di antara pujian & kesan yang diberikan, dipilih dan dibingkai untuk diabadikan kemudian dibacakan di acara tersebut, yakni sebuah tulisan dari seorang office boy yang telah bekerja cukup lama di perusahaan itu.
Dia menulis semuanya dengan huruf kapital sebagai berikut :
• Yang terhormat Pak Direktur. Terima kasih karena Bapak telah mengucapkan kata TOLONG, setiap kali Bapak memberi tugas yang sebenarnya adalah tanggung jawab saya.
• Terima kasih Pak Direktur karena Bapak telah mengucapkan MAAF, saat Bapak menegur, mengingatkan dan berusaha memberitahu setiap kesalahan yang telah saya perbuat, karena Bapak ingin saya merubahnya menjadi kebaikan.
• Terima kasih Pak Direktur karena Bapak selalu mengucapkan TERIMA KASIH kepada saya atas hal-hal kecil yang telah saya kerjakan untuk Bapak.
• Terima kasih Pak Direktur atas semua penghargaan kepada orang kecil seperti saya, sehingga saya bisa tetap bekerja dengan sebaik-baiknya, dengan kepala tegak, tanpa merasa direndahkan dan dikecilkan. Dan sampai kapanpun Bapak adalah Pak Direktur buat saya.
• Terima kasih sekali lagi. Semoga kebajikan melindungi jalan dimanapun Pak Direktur berada.
Setelah sejenak keheningan menyelimuti ruangan itu, serentak tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Diam-diam Pak Direktur mengusap genangan airmata di sudut mata tuanya, terharu mendengar ungkapan hati seorang office boy yang selama ini dengan setia melayani kebutuhan seluruh isi kantor.
Pesan Cerita :
Kata "Tolong", Kata "Maaf" dan Kata "Terima Kasih" adalah The Three Magic Words atau Tiga kata ajaib. Tiga kata pendek yang sederhana tetaρi mempunyai dampak yang sangat positif. Sesungguhnya dengan menghargai orang lain, minimal kita telah menghargai diri kita sendiri.
Marilah kita membiasakan diri untuk mengungkapkan ke tiga kata ini jika berinteraksi dengan seseorang atau sesama secara TULUS dan IKHLAS. Maka hubungan saling menghargai dan dihargai akan tercipta dalam kehidupan sosial kita.
Source: buddhistzone
Appreciate The Time - The Story
Dikisahkan, suatu hari ada seorang anak muda yang tengah menanjak karirnya tapi merasa hidupnya tidak bahagia. Istrinya sering mengomel karena merasa keluarga tidak lagi mendapat waktu dan perhatian yang cukup dari si suami.
Orang tua dan keluarga besar, bahkan menganggapnya sombong dan tidak lagi peduli kepada keluarga besar. Tuntutan pekerjaan membuatnya kehilangan waktu untuk keluarga, teman-teman lama, bahkan saat merenung bagi dirinya sendiri.
Hingga suatu hari, karena ada masalah, si pemuda harus mendatangi salah seorang petinggi perusahaan di rumahnya. Setibanya di sana, dia sempat terpukau saat melewati taman yang tertata rapi dan begitu indah.
“Hai anak muda. Tunggulah di dalam. Masih ada beberapa hal yang harus Bapak selesaikan,” seru tuan rumah.
Bukannya masuk, si pemuda menghampiri dan bertanya, “Maaf, Pak. Bagaimana Bapak bisa merawat taman yang begitu indah sambil tetap bekerja dan bisa membuat keputusan-keputusan hebat di perusahaan kita?”
Tanpa mengalihkan perhatian dari pekerjaan yang sedang dikerjakan, si bapak menjawab ramah, “Anak muda, mau lihat keindahan yang lain? Kamu boleh kelilingi rumah ini. Tetapi, sambil berkeliling, bawalah mangkok susu ini. Jangan tumpah ya. Setelah itu kembalilah kemari”.
Dengan sedikit heran, namun senang hati, diikutinya perintah itu. Tak lama kemudian, dia kembali dengan lega karena mangkok susu tidak tumpah sedikit pun. Si bapak bertanya, “Anak muda. Kamu sudah lihat koleksi batu-batuanku? Atau bertemu dengan burung kesayanganku?”
Sambil tersipu malu, si pemuda menjawab, “Maaf Pak, saya belum melihat apa pun karena konsentrasi saya pada mangkok susu ini. Baiklah, saya akan pergi melihatnya.”
Saat kembali lagi dari mengelilingi rumah, dengan nada gembira dan kagum dia berkata, “Rumah Bapak sungguh indah sekali, asri, dan nyaman.” tanpa diminta, dia menceritakan apa saja yang telah dilihatnya. Si Bapak mendengar sambil tersenyum puas sambil mata tuanya melirik susu di dalam mangkok yang hampir habis.
Menyadari lirikan si bapak ke arah mangkoknya, si pemuda berkata, “Maaf Pak, keasyikan menikmati indahnya rumah Bapak, susunya tumpah semua”.
“Hahaha! Anak muda. Apa yang kita pelajari hari ini? Jika susu di mangkok itu utuh, maka rumahku yang indah tidak tampak olehmu. Jika rumahku terlihat indah di matamu, maka susunya tumpah semua. Sama seperti itulah kehidupan, harus seimbang. Seimbang menjaga agar susu tidak tumpah sekaligus rumah ini juga indah di matamu. Seimbang membagi waktu untuk pekerjaan dan keluarga. Semua kembali ke kita, bagaimana membagi dan memanfaatkannya. Jika kita mampu menyeimbangkan dengan bijak, maka pasti kehidupan kita akan harmonis”.
Seketika itu si pemuda tersenyum gembira, “Terima kasih, Pak. Tidak diduga saya telah menemukan jawaban kegelisahan saya selama ini. Sekarang saya tahu, kenapa orang-orang menjuluki Bapak sebagai orang yang bijak dan baik hati”.
Dapat membuat kehidupan seimbang tentu akan mendatangkan keharmonisan dan kebahagiaan. Namun bisa membuat kehidupan menjadi seimbang, itulah yang tidak mudah.
Untuk itu mulai sekarang belajarlah menghargai waktu, waktu dimana kita untuk bekerja dan keluarga.
Source: buddhistzone
8/03/2012
Ōkunoshima, The Rabbit Island
Ōkunoshima (大 久 野 岛) adalah sebuah pulau kecil yang terletak di pedalaman laut Jepang di kota Takehara, Hiroshima Prefecture. Ōkunoshima dapat diakses menggunakan kapal feri dari Tadanoumi dan Ōmishima. Pulau ini sering disebut Usagi Shima (ウサギ 島, "Rabbit Island") karena terdapat banyak kelinci liar yang berkeliaran, mereka jinak dan akan mendekati manusia.
Ōkunoshima atau Pulau Kelinci memiliki kisah kelam sebelum berubah menjadi pulau lucu seperti sekarang. Pada masa Perang Dunia II, pulau ini dijadikan pabrik pembuatan senjata biologi. Pulau yang tak berpenghuni ini memproduksi banyak gas beracun.
Yang menjadi bahan percobaan senjata biologis tersebut adalah kelinci. Setelah Perang Dunia selesai, pulau ini dibiarkan kosong dan kelinci pun dilepas bebas. Tahun-tahun berlalu, gudang senjata biologis pun sudah dibersihkan oleh pemerintah Jepang. Kini, Pulau Ōkunoshima terbuka untuk mereka yang ingin berlibur.
Ada sebuah hotel yang bisa dijadikan tempat penginapan di sini. Ada juga pusat informasi untuk turis dan sebuah bangunan yang melayani penyewaan sepeda. Kebanyakan turis yang datang ke sini karena ingin melihat kelinci lucu yang tidak takut dengan manusia. Memang banyak sekali kelinci di sini, malah, populasi kelinci jauh lebih besar dari manusia.Kebanyakan dari mereka tidak lari jika didekati dan malah mendatangi tanpa rasa takut.
Anda bisa mengelilingi pulau ini dengan menggunakan sepeda sewaan. Selain bisa bermain dengan kelinci, Anda juga bisa mendatangi Poison Gas Museum. Pada tahun 1988, dibangunlah museum ini dengan tujuan mengedukasi masyarakat mengenai pabrik gas beracun yang pernah dibuat di sini.
Jika penasaran dengan gedung asli pabrik pembuatan gas beracun, Anda bisa langsung datang ke sana. Gedung asli masih berdiri meski sudah tidak terurus. Turis tidak boleh melewati garis pembatas yang ada di sekeliling gedung karena dianggap bisa membahayakan. Namun banyak juga turis yang tetap masuk ke dalam dan mengabaikan garis pembatas.
Pulau Kelinci juga memiliki pantai yang indah. Garis pantai berpasir putih jadi favorit masyarakat sekitar Hiroshima yang ingin berlibur ke pantai. Airnya yang biru dan bersih asyik untuk direnangi.
Source: detik, wikipedia
Langganan:
Postingan (Atom)