Header

Tampilkan postingan dengan label power. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label power. Tampilkan semua postingan

9/19/2012

The Power of Compound Interest


Dear friends, saya ingin berbagi pengetahuan dan informasi seputar investasi khususnya tentang compound interest atau bunga majemuk. Artikel ini saya dapatkan dari milis beberapa hari yang lalu. Berikut cuplikan artikel tersebut dengan sedikit perubahan tata bahasa namun tidak mengubah maksud dari apa yang ingin disampaikan.

Belasan tahun yang lalu, saya bergabung dengan kelompok studi pasar modal di kampus saya. Pada waktu itu jumlah mahasiswa yang berminat untuk join di kelompok ini sangat sedikit. Saya sendiri pun tidak terlalu rajin untuk hadir karena memang hingga SMA saya dibesarkan di lingkungan yang tidak terlalu memahami financial planning dan investasi.

Pernah suatu kali salah seorang mentor menanyakan ke kita yang hadir dengan pertanyaan, "Jika Anda menabung sebesar Rp. 10 Juta sekarang, dengan bunga 10% per tahun. Berapa jumlah uang Anda untuk 20 tahun yang akan datang?

Banyak dari kami yang dengan cepat menjawab, 30 juta. Dengan perhitungan, modal ditambah bunga. Dimana bunga = 10% x 10 juta x 20 tahun = 20 juta sehingga total uang yang kita miliki 10jt + 20 jt = 30 jt. Ternyata jawaban ini salah total.

Jawaban yang tepat adalah Rp. 67.2 juta. Loh, bagaimana bisa?

Pada waktu itu saya menekuk dahi saya, mencoba berpikir ulang, masa sih? Kok rasanya kebanyakan. Saya mengambil kertas dan pena serta dibantu dengan kalkulator, saya mencoba menghitung gain per tahunnya.

Modal = 10 juta.
Tahun 1. Total uang = Modal + bunga = 10jt + (10% x 10 jt) = 10jt + 1jt = 11jt.
Tahun 2. Total uang = total uang tahun 1 + bunga = 11jt + (10% x 11 jt) = 11 jt + 1.1 jt = 12.1 jt. Tabel hasil perhitungan saya kurang lebih seperti berikut:


Kalau diperhatikan ternyata uang Rp. 30 juta (jawaban salah saya) sudah dapat terkumpul di tahun ke-12. Sehingga sebenarnya modal awal Rp. 10 juta menjadi 6 kali lipat jumlahnya di tahun ke-20.

Saya baru sadar bahwa jika return/bunga yang saya terima setiap tahun tidak saya gunakan dan ditambahkan menjadi modal di tahun berikutnya. Maka di sinilah terjadi apa yang disebut dengan kekuatan bunga majemuk atau sering juga disebut bunga berbunga.

Hal yang hendak saya sampaikan di balik cerita di atas adalah pergunakanlah kekuatan bunga majemuk. Bahkan Albert Einstein pernah mengatakan bahwa bunga majemuk adalah keajaiban dunia yang ke-delapan dan hal yang paling ampuh yang pernah beliau temui di dunia ini.

Coba perhatikan tabel bunga majemuk yang lebih lengkap di bawah ini. Dengan modal yang Anda miliki sekarang, pilihlah kolom mana yang akan menjadi tujuan Anda dalam berinvestasi. Ternyata dengan modal Rp. 50 juta, di tahun ke-20 kita sudah memiliki dana sebesar Rp. 1.9 milyar. Bahkan di tahun ke-30 menjadi Rp. 11.8 milyar.


Inilah yang dinamakan kekuatan bunga majemuk. Semakin dini Anda berinvestasi, semakin besar peranan kekuatan bunga majemuk. Dan angka di atas akan lebih besar lagi jika Anda menambahkan dana investasi Anda per tahun, misalkan Anda peroleh dari bonus gaji atau keuntungan dari usaha Anda.

Jujur, sayang sekali saya pribadi telat memahami makna bunga majemuk ini. Tetapi sisi positifnya, saya sudah memulai investasi untuk putera saya yang saat ini baru berusia 1 tahun sehingga nanti ketika putera saya berada di usia saya sekarang, dia sudah berada di posisi menikmati dan mempersiapkan juga untuk cucu saya.

Saya yakin pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah apakah keuntungan 20% secara konstan bisa kita peroleh dari pasar modal/bursa. Jawabannya bisa, bahkan bisa lebih. Setidaknya itu berdasarkan pengalaman saya pribadi di pasar modal dan bahkan dari pengalaman Warren Buffet yang sudah 46 tahun berinvestasi, di mana average return-nya adalah 19.8 % per tahun. Memilih menjadi investor sebenarnya mudah, tidak perlu modal hingga milyaran rupiah. Yang sulit adalah menjadi investor yang sabar, kebanyakan dari kita sering melupakan kekuatan bunga majemuk ini bahkan dari kalangan profesional sekalipun. Kita cenderung berharap memperoleh keuntungan dalam waktu singkat, lalu langsung menikmatinya.

Alasan Warren Buffet hidup sederhana, bahkan tidak mau mengganti rumah dan mobilnya dalam waktu lama dikarenakan dia selalu menghitung kekuatan bunga majemuk ini. Di mana misalkan harga mobil Rp. 200 juta, sangat sayang bila digunakan karena dalam waktu 20 tahun bisa menjadi Rp. 7.6 milyar bahkan 50 tahun kemudian menjadi Rp. 1.8 triliun.

Mari mulai berpikir, ketika Anda hendak membeli barang-barang yang sebenarnya untuk prestige atau style saja seharga jutaan rupiah. Ingat-ingat lagi kekuatan bunga majemuk ini, semoga membantu rekan-rekan.

Source: yahoo groups

12/02/2011

The Power of "Because"


Penelitian pada tahun 1978 oleh Ellen Langer dan beberapa koleganya menemukan bahwa kata "karena" memiliki kekuatan yang luar biasa. Mereka memutuskan untuk menempatkan kekuatan persuasif dari kata ini dalam suatu percobaan. Dalam satu studi, Langer mengatur agar seorang yang tidak dikenal untuk mendekati beberapa orang yang sedang berbaris menunggu antrian untuk menggunakan mesin fotokopi dan bertanya, "Maaf, saya hanya memiliki 5 lembar. Bolehkah saya memfotokopi terlebih dahulu?" Berhadapan dengan permintaan langsung untuk memotong antrian, 60 persen orang-orang tersebut mempersilahkan orang tidak dikenal itu untuk memfotokopi terlebih dahulu. Namun, ketika orang tidak dikenal itu membuat permintaan dengan alasan, "Maaf, bolehkah saya menggunakan mesin fotokopi terlebih dahulu karena saya sedang buru-buru?" Hampir semua orang (94 persen) mengizinkannya memfotokopi terlebih dahulu.

Di sinilah penelitian menjadi sangat menarik. Kali ini, orang tidak dikenal tersebut juga menggunakan kata "karena" tetapi diikuti dengan sebuah alasan yang benar-benar tidak berarti. Orang tersebut berkata, "Maaf, bolehkah saya menggunakan mesin foto kopi terlebih dahulu karena saya harus memfotokopi?" Dan hasilnya adalah 93 persen orang mengizinkannya memfotokopi terlebih dahulu.

Alasan yang sangat konyol tentunya. Setiap orang tahu mesin fotokopi adalah untuk memfotokopi. Lantas mengapa alasan itu sangat efektif? Penyebabnya adalah kata "karena" memicu penerimaan tak sadar orang bahwa penjelasan yang mengikutinya adalah valid. Kita mendengar sesuatu dan kita nyaris selalu memiliki respon Pavlovian dalam menerimanya. Respon Pavlovian adalah teori dari Fisiolog Rusia, Ivan Petrovich Pavlov tentang anjing. Sebelum memberi makan anjing, Pavlov selalu membunyikan bel. Akhirnya anjing-anjing itu selalu mengeluarkan air liur jika mendengar bunyi bel, meskipun tidak ada makanan. Entah kalimat setelah kata "karena" itu masuk akal ataukah tidak, kita menganggapnya masuk akal dan karenanya kita tidak mau bersusah-susah memproses penjelasan yang mengikutinya.

Source: marginalrevolution