Header

Tampilkan postingan dengan label monk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label monk. Tampilkan semua postingan

6/13/2012

Vegetarianism, Monks and Fake Meat


Dalam ajaran Buddha, menjadi vegetarian atau tidak, tergantung sepenuhnya pada pribadi itu sendiri. Apa yang ditekankan dalam ajaran Buddha bukanlah kemurnian dari makanan, tetapi kemurnian dari pikiran.

Tentu saja, banyak umat Buddha, yang kemudian menyadari kekejaman yang terlibat dari konsumsi daging, yang tidak lebih dari sekedar daging binatang malang. Banyak yang berhasil dalam mengakhiri nafsu keinginan dan keterikatan pada konsumsi daging, dan pada akhirnya menjadi vegetarian atas kehendak mereka sendiri.

Akan tetapi, apabila menjadi vegetarian tidak sesuai atau terlalu sulit, maka ambillah jalan dimana anda merasa nyaman dengannya. Meskipun demikian, menjadi vegetarian sekurang-kurangnya sekali atau dua kali dalam sebulan adalah cara yang baik dalam mempraktekkan belas kasih pada semua makhluk hidup, dengan kesadaran menghindari daging setidaknya pada hari itu.

Buku yang dengan sangat baik menguraikan pandangan Buddhis tentang Vegetarianisme adalah karangan Philip Kapleau’s dengan judul “Menghargai Setiap Kehidupan”.

Mengapa sebagian bhikkhu makan daging?
Buddha menolak larangan makan daging di antara pengikut Beliau. Beliau memiliki alasan yang sangat praktis dalam hal ini karena makanan sayur-sayuran tidak cukup tersedia di beberapa area, atau bisa jadi sangat langka pada musim kering. Sebagai contoh, makanan sayur-sayuran sangat terbatas di tempat seperti Tibet.

Para bhikkhu bertahan hidup dengan cara meminta sedekah dan apabila meminta sedekah hanya dibatasi pada makanan sayur-sayuran, maka hal ini bisa menjadi beban besar bagi umat awam yang mendukung para bhikkhu. Jadi, para bhikkhu makan apa saja yang diberikan kepada mereka, bahkan jika itu daging, sepanjang binatang tersebut tidak secara khusus dibunuh untuk mereka.

Dewasa ini, walaupun banyak bhikkhu dan vihara memiliki pilihan untuk makanan sayur-sayuran. Namun, harus diperhatikan bahwa sebagian besar bhikkhu dalam tradisi Mahayana adalah vegetarian ketat.

Bukankah vegetarian umat Buddha yang mengkonsumsi daging tiruan bersifat munafik? Mengapa harus daging tiruan?
Daging tiruan adalah makanan popular vegetarian yang terbuat dari ketan, kacang kedelai atau jamur yang meniru tampilan dan rasa dari daging beneran. Umat Vegetarian Buddhis terkadang dituduh munafik karena mereka mengaku menghindari daging namun makan segala jenis daging tiruan.

Kaum vegetarian umumnya tidak berkeinginan untuk mengkonsumsi sesuatu yang melibatkan penderitaan dan pembunuhan dari hewan yang malang. Jadi, mereka tidak memandang daging tiruan sebagai ‘daging’ tetapi hanyalah sesuatu yang memberikan keragaman makanan.

Daging tiruan pada awalnya diproduksi untuk menarik non-vegetarian pada makanan vegetarian. Misalnya, daging tiruan tersebut dapat dimakan oleh pemakan daging yang ingin menjadi vegetarian, berhubung makanan tersebut memudahkan transisi menuju vegetarian penuh.

Dalam kasus apapun, makan daging tiruan masih jauh lebih baik dari makan daging binatang asli.

“Semua makhluk mencintai kehidupan,
Semua makhluk mencintai kebahagiaan.
Dengan diri sendiri sebagai perbandingan,
kamu tidak seharusnya melukai atau membunuh,
Atau menyebabkan luka atau terbunuhnya makhluk lain.”

Source: buddhistzone

2/12/2012

Wat Pha Luangta Bua, The Tiger Temple


Wat Pha Luang Ta Bua adalah kuil Buddhis Theravada di Thailand sebelah barat yang didirikan tahun 1994 sebagai kuil hutan dan tempat perlindungan untuk hewan-hewan liar. Kuil ini terletak di distrik Saiyok dari provinsi Kanchanaburi, Thailand, tidak jauh dari perbatasan dengan Myanmar, beberapa 38 km (24 mil) barat laut Kanchanaburi sepanjang jalan raya 323.


Kuil Buddhis ini terkenal karena keindahannya yang luar biasa dan itu tentu saja merupakan perjalanan yang sangat baik bagi wisatawan. Kuil ini dikenal sebagai kuil goa harimau karena ketika awal didirikan kuil ini oleh Biksu Ajahn Jumnien itu terdapat sejumlah harimau tinggal di dalam goa yang kini menjadi bagian sentral dari kuil ini. Selain harimau, terdapat juga jenis hewan-hewan lain seperti panda, rusa, ayam, dan lain-lain.


Pada tahun 1999, kuil menerima harimau pertama, yang telah ditemukan oleh penduduk desa, tapi akhirnya meninggal. Kemudian, beberapa anak harimau diberikan ke kuil dari waktu ke waktu, biasanya ketika induknya telah dibunuh oleh pemburu atau orang lain yang ingin menyingkirkannya. Pada 2007, lebih dari 21 anak panda telah lahir di kuil, dan jumlah harimau adalah sekitar 12 harimau dewasa dan 4 anaknya. Pada akhir Maret 2011, jumlah harimau yang hidup di kuil telah meningkat menjadi hampir 90 ekor. Harimau-harimau tersebut tampak sangat akrab dan seperti memiliki hubungan spiritual dengan para biksu di sana. Harimau-harimau tersebut dijinakkan dengan cara diberikan daging yang dimasak untuk menghindari mereka merasakan rasa darah. Para staf tetap memantau harimau-harimau tersebut, sedangkan para biksu dapat mengontrol keadaan jika harimau-harimau tersebut memberontak. Harimau-harimau tersebut diperlakukan layaknya anggota keluarga. Pengunjung diminta untuk memberikan donasi jika mereka ingin berfoto dengan harimau-harimau tersebut. Donasi tersebut bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk menutupi biaya makan hewan-hewan tersebut.


Keunikan lain dari kuil ini antara lain sebuah kaki bukit yang luas dengan hutan mengelilinginya yang dapat Anda daki sampai ke puncak. Sesampainya Anda di puncak bukit, Anda dihadiahi pemandangan yang luar biasa dan bertemu wisatawan dari seluruh dunia.

Sekedar informasi, Animal Planet bahkan pernah mendokumentasikan kuil ini dalam sebuah film dokumenter yang berjudul The Temple of The Tiger pada tahun 2004. Klik di sini untuk mengunduh film dokumenter tersebut.

Source: tigertemple, wikipedia