Header

Tampilkan postingan dengan label learn. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label learn. Tampilkan semua postingan

6/13/2012

Learn from Taxi Driver


Suatu hari saya naik sebuah taksi menuju ke bandara. Kami melaju pada jalur yang benar ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam “melompat” keluar dari tempat parkir tepat di depan kami. Sopir taksi menginjak pedal rem dalam–dalam hingga ban berdecit dan berhenti hanya beberapa sentimeter dari mobil tersebut.

Pengemudi mobil hitam tersebut mengeluarkan kepalanya dan memaki ke arah kami. Sopir taksi hanya tersenyum dan melambai pada orang tersebut. Saya sangat heran dengan sikapnya yang bersahabat. Saya bertanya, “Mengapa anda melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil anda dan bisa saja mengirim kita ke Rumah Sakit?!”

Saat itulah saya belajar dari sopir taksi tersebut mengenai apa yang kemudian saya sebut ‘Hukum Truk Sampah’.

Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti ‘Truk Sampah’. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti: frustasi, kemarahan, kekecewaan. Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya, dan seringkali mereka ‘membuangnya’ kepada anda. Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, berkati mereka, lalu lanjutkan hidup.

Jangan ambil ‘Sampah’ mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang anda temui di tempat kerja, di rumah, atau dalam perjalanan. Intinya, orang yang sukses adalah orang orang yang tidak membiarkan ‘Truk Sampah’ mengambil alih hari – hari mereka dengan merusak suasana hati.

Hidup ini terlalu singkat untuk bangun di pagi hari dengan penyesalan, maka kasihilah orang yang memperlakukan anda dengan benar, berdoalah bagi yang tidak. Hidup itu 10% mengenai apa yang anda buat dengannya dan 90% tentang bagaimana anda menghadapinya.

Hidup itu bukan mengenai menunggu badai berlalu, tetapi bagaimana belajar menari dalam hujan.

Selamat menikmati hidup yang terbebas dari sampah.

Source: buddhistzone

12/14/2011

Learn To Be Like A Pencil


Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.
"Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?"
Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, "Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai. Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti".

Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.

"Tapi nek, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya" Ujar si cucu. "Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini. Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini", jawab si nenek.

Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.

"Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya".

"Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik".

"Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar".

"Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu".

"Kualitas kelima, sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan".

Source: buddhistzone