Header

Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

4/20/2012

A Bowl of Rice - The Story


Cerita ini berdasarkan kisah nyata yang terjadi di negri Tiongkok. Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir didepan sebuah rumah makan cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu direstoran sudah agak sepi, dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk kedalam restoran tersebut.

Kemudian pemuda itu berkata:
"Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih."
dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan.

Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya.

Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar lalu berkata dengan pelan:
"dapatkah menyiram sedikit kuah sayur diatas nasi saya."

Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum:
"Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar !"

Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir:
" kuah sayur gratis."
Lalu memesan semangkuk lagi nasi putih.

" Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi nasinya."
Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini.

"Bukan, saya akan membawa pulang, besok akan membawa kesekolah sebagai makan siang saya !"

Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini tentu dari keluarga miskin diluar kota, demi menuntut ilmu datang kekota, mencari uang sendiri untuk sekolah, kesulitan dalam keuangan itu sudah pasti.

Berpikir sampai disitu pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong daging dan sebutir telur disembunyikan dibawah nasi, kemudian membungkus nasi tersebut sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja dan memberikan kepada pemuda ini.

Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini,
hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan dibawah nasi?
Suaminya kemudian membisik kepadanya :
"Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk dinasinya dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya, harga dirinya pasti akan tersinggung lain kali dia tidak akan datang lagi, jika dia ketempat lain hanya membeli semangkuk nasi putih, mana ada gizi untuk bersekolah."

"Engkau sungguh baik hati, sudah menolong orang masih menjaga harga dirinya."

"Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku ?"

Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain.
"Terima kasih, saya sudah selesai makan."
Pemuda ini pamit kepada mereka.

Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikan badan melihat dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka.
"Besok singgah lagi, engkau harus tetap bersemangat !"
katanya sambil melambaikan tangan, dalam perkataannya bermaksud mengundang
pemuda ini besok jangan segan-segan datang lagi.

Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu, mulai saat itu setiap sore pemuda ini singgah kerumah makan mereka, sama seperti biasa setiap hari hanya memakan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan hari. Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi setiap hari, sampai pemuda ini tamat, selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi.

Pada suatu hari, ketika suami ini sudah berumur 50 tahun lebih,
pemerintah melayangkan sebuah surat bahwa rumah makan mereka harus digusur, tiba-tiba kehilangan mata pencaharian dan mengingat anak mereka yang disekolahkan diluar negeri yang perlu biaya setiap bulan membuat suami istri ini berpelukan menangis dengan panik.

Pada saat ini masuk seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek kelihatannya seperti direktur dari kantor bonafid.
"Apa kabar?, saya adalah wakil direktur dari sebuah perusahaan, saya diperintah oleh direktur kami mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami, perusahaan kami telah menyediakan semuanya kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian kesana, keuntungannya akan dibagi 2 dengan perusahaan."

"Siapakah direktur diperusahaan kamu ?, mengapa begitu baik terhadap kami? saya tidak ingat mengenal seorang yang begitu mulia !" Sepasang suami istri ini berkata dengan terheran.


"Kalian adalah penolong dan kawan baik direktur kami, direktur kami paling suka makan telur dan dendeng buatan kalian, hanya itu yang saya tahu, yang lain setelah kalian bertemu dengannya dapat bertanya kepadanya."

Akhirnya, pemuda yang hanya memakan semangkuk nasi putih ini muncul, setelah bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun kerajaaan bisnisnya dan sekarang menjadi seorang direktur yang sukses.

Dia merasa kesuksesan pada saat ini adalah berkat bantuan sepasang suami istri ini, jika mereka tidak membantunya dia tidak mungkin akan dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sesukses sekarang.

Setelah berbincang-bincang, suami istri ini pamit hendak meninggalkan kantornya.
Pemuda ini berdiri dari kursi direkturnya dan dengan membungkuk dalam-dalam berkata kepada mereka:
"bersemangat ya ! dikemudian hari perusahaan tergantung kepada kalian, sampai bertemu besok !"

Kebaikan hati dan balas budi selamanya dalam kehidupan manusia adalah suatu perbuatan indah dan yang paling mengharukan.

Source: buddhistzone

12/05/2011

Life Isn't Fair. So Now What?


"Life isn’t fair, deal with it." Itulah kalimat yang harus Anda tanamkan dalam hidup ini. Situasi Anda saat ini mungkin sangat-sangat tidak adil, tetapi kesempatan yang tinggal di dalamnya akan menggerakkan hidupmu sedikit demi sedikit ke arah yang lebih baik.

Anda mungkin hampir setiap hari akan mendengar orang-orang atau bahkan diri Anda sendiri mengatakan:

"Saya tidak bisa percaya ini terjadi padaku! Mengapa hal-hal yang buruk tampaknya selalu terjadi padaku!?"

"Saya orang yang istimewa, mengapa saya tidak diperlakukan seperti seseorang yang istimewa?"

"Mengapa semua orang tampaknya berhasil dan semua yang saya lakukan gagal?"

"Saya tidak mendapatkan pekerjaan / diajak keluar pada kencan kedua / mendapatkan perhatian dari saudara saya yang lain."

Para psikolog menyebutnya "pemikiran irasional" atau sebuah "distorsi kognitif". Pemikiran ini disebut "The Fallacy of Fairness" atau kekeliruan tentang keadilan. Pada dasarnya di kepala kita mengatakan, kita terkadang berpikir seperti seorang anak kecil yang seluruh hidupnya "harus adil".

Kebanyakan dari kita berjuang untuk menerima kenyataan bahwa hidup ini tidak didasarkan pada keadilan. Kita tidak mengerti mengapa orang-orang tidak selalu mendapatkan apa yang selayaknya mereka dapatkan. Kita mengharapkan orang baik untuk dihargai dan yang orang jahat dihukum.

Sekarang, saya tidak mengatakan bahwa kita tidak memiliki kendali dalam hidup kita. Tentu saja, kitalah yang mengendalikannya. Orang yang bekerja keras cenderung lebih sukses dalam hidupnya dibandingkan mereka yang tidak, tetapi bahkan pekerja keras juga dapat kehilangan pekerjaan mereka, perkawinan mereka atau impian mereka. Orang yang makan dan berolahraga secara teratur, statistik berbicara memiliki kesehatan yang lebih baik dan umur yang panjang, tetapi penyakit terkadang tidak memiliki sebab atau alasan untuk menyerang.

Dan untuk cinta, berhentilah mengeluh tentang hidup yang tidak adil, pergilah ke luar sana dan lakukan sesuatu - cobalah untuk membuatnya adil jika Anda mampu, atau hanya mencoba untuk membuat hidup Anda mampu menyentuh sesuatu yang baik. Nikmati hidup Anda, bantu orang lain untuk menikmatinya juga.

Yang ingin saya katakan adalah bahwa hidup itu seperti cuaca. Pada umumnya - di zaman modern ini - kita tidak berpikir tentang keadilan ketika cuaca cerah atau langit berawan dan kita berpikir sebaliknya ketika hujan datang. Ini bukan sebuah hukuman untuk perilaku buruk atau sebuah hadiah untuk perilaku yang baik. Faktanya, layaknya kehidupan, cuaca sangat sedikit hubungannya dengan keadilan. Meskipun kita tentu memiliki pengaruh pada lingkungan (untuk baik atau buruknya cuaca), kebanyakan faktor alami berpengaruh jauh lebih besar daripada kita. Dari sudut pandang kehidupan kita sehari-hari, cuaca hanya datang. Suka atau tidak, kita harus menghadapinya.

Life is unfair. So now what?
Anda tidak memakai pisau untuk melawan pistol dan Anda tidak berharap menang di sebuah meja dimana si dealer judi melakukan kecurangan. "Keadilan" yang sering orang bicarakan adalah sebuah gagasan bahwa jika Anda pergi ke sekolah dan mendapatkan nilai yang baik, Anda dapat lulus, mendapatkan pekerjaan yang baik dan mendapatkan upah gaji yang setimpal". Tetapi kenyataannya tidak selalu seperti itu. Terkadang, sesuatu tak terduga terjadi begitu saja.

Anda dapat menghabiskan seluruh energi dan waktu Anda untuk terjebak dalam pikiran berulang (tentang bagaimana kehidupan yang tidak adil itu), atau Anda dapat menerima kebenaran yang tak dapat disangkal itu - tidak ada jalan bagi dunia untuk terus menunjukkan sifat universalnya, menyeimbangkan setiap orang di setiap waktu - dan bertanya pada Anda, "Jadi apa yang saya lakukan sekarang?"

Salah satu kunci untuk mengatasi pemikiran irasional adalah dengan mengidentifikasinya seperti Anda berbicara dengan diri Anda sendiri. Dengan mengidentifikasi pemikiran irasional tersebut, Anda akan berada di posisi yang lebih nyaman untuk menjawabnya di masa yang akan datang. Setelah Anda melacak seberapa sering Anda melakukannya, maka Anda dapat memulai menjawabnya.

Hidup memang tidak adil. Sekali Anda dapat menerima dasar dan aspek ketidakberuntungan dalam hidup, Anda bisa melanjutkan ke langkah berikutnya - dan berilah tenaga pada diri Anda untuk bergerak maju. Bayangkan semua energi yang akan Anda simpan yang berasal dari pemikiran rasional selalu berjalan di kepala Anda!

Hidup adalah sebuah permainan untuk belajar yang tidak akan pernah berakhir. Ketika sesuatu yang buruk terjadi pada Anda (atau ketika sesuatu yang baik tidak terjadi pada Anda), mungkin hal tersebut tidak hanya sekedar sesuatu yang buruk. Itu mungkin adalah sebuah kesempatan untuk belajar sesuatu yang baru - tentang diri Anda, tentang cara dunia bekerja, atau tentang perasaan orang lain terhadap Anda.

Source: psychologytoday, psychcentral, escapingthe9to5

12/02/2011

Teeth and Tongue - The Story

 
Salah satu orang yang paling berhikmat di negeri Tiongkok adalah Lao Zi. Namun Lao Zi juga belajar banyak dari gurunya yang memiliki hikmat sangat tinggi. Nama guru itu adalah Shang Rong. Shang Rong mempunyai pemikiran yang sangat brilian dan dalam. Ia juga mempunyai cara mengajar yang dikagumi oleh Lao Zi, karena itu ia merasa bahwa gurunya yang membuatnya sangat berhikmat.

Pada suatu hari dalam usia yang sudah sangat lanjut, Shang Rong sakit parah. Demi mendengar bahwa guru yang sangat dikasihi dan dikaguminya sakit, Lao Zi meninggalkan pekerjaannya dan pergi membesuk Shang Rong. Saat itu Lao Zi sangat khawatir bahwa gurunya tidak akan bisa bangun lagi. Karena itu, ia bertanya kepada Shang Rong, “Apakah ada yang saya bisa bantu dan apakah ada pesan-pesan yang sangat penting ?”

Dengan suara yang masih bisa didengar dengan jelas, Shang Rong berkata, “Jika kamu pergi dan melewati sebuah desa tua, kamu harus turun di sana.”

Lao Zi agak heran dan bertanya, “Apakah itu berarti saya tidak boleh menjadi orang yang lupa akan desa tua atau kampung halaman ?”

Shang Rong menggelengkan kepalanya, lalu berkata, “Jika kamu melewati pohon tua yang tinggi besar, harus berlari dengan langkah kecil !”

Lao Zi menjawab, “Apakah maksudmu yang penting adalah orang muda harus menghormati orang yang tua ?”

Sambil tersenyum Shang Rong menggelengkan kepalanya lagi. Setelah itu mereka berdua diam sejenak, Shang Rong memikirkan sesuatu untuk dikatakan, sementara Lao Zi memikirkan apa maksud gurunya.

Tidak berapa lama kemudian Shang Rong membuka mulutnya, lalu bertanya, “Apakah lidah saya masih ada ?”

Lao Zi Menganggukkan kepala dan menjawab, “Masih ada !”

Lalu Shang Rong melanjutkan pertanyaannya, “Apakah gigi saya masih ada ?”

Setelah melihat, Lao Zi menjawab, “Sudah tidak ada satupun gigi yang tertinggal !”

Shang Rong kembali bertanya, “Apakah kamu tahu apa arti yang hendak saya sampaikan ?”

Setelah berpikir sejenak, Lao Zi menjawab, “Apakah Guru ingin menyampaikan bahwa gigi itu keras dan karena itu rontok duluan. Dan lidah itu lebih lembut dan fleksibel, karena itu umumnya lebih tahan lama daripada gigi ?”

Dengan senyum bangga, Shang Rong memuji muridnya, “Kamu sekarang sudah mengerti rumus penting kehidupan.”

Gigi itu banyak gunanya dan membuat penampilan seseorang tambah baik. Gigi bisa mengunyah untuk melembutkan makanan yang keras, namun akhirnya lidah yang merasakan. Gigi banyak manfaatnya, namun karena ia keras, umurnya tidak sepanjang lidah. Banyak orang pintar dan berbakat tidak bisa bertahan lama, bukan karena apa yang bisa dilakukannya, tetapi karena kekerasan hati dan kelakuan sikapnya. Sebaliknya orang yang lemah lembut lebih fleksibel dan lebih bisa bertahan.

Source: 101 Kisah Bermakna dari Negeri China

10/24/2011

An Apple Tree - The Story


Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.


Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.

“Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.


“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.

“Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang……… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.


Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.

“Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel.


“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” “Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel.


Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.


Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.

“Ayo bermain-main lagi deganku,” kata pohon apel. “Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”


“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.” Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.


Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu.


“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel. “Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu. “Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.” “Oooh, bagus sekali.


Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.” Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak sahabat dan rekan. Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

Source: dhammavijja

6/14/2011

A Dented Coin - The Story


Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.

“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.

Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.

Ada banyak pesan yang dapat kita dapatkan dari cerita ini. Bila kita sadar kita tidak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan? Sebaliknya, sewajarnya kita bersyukur atas segala karunia hidup yang telah Tuhan berikan pada kita, karena ketika datang dan pergi kita tidak membawa apa-apa.

Selain pesan tersebut ada 1 kalimat bijak yang dapat saya berikan untuk menggambarkan kisah di atas, yaitu "Just pretend everything is okay so no one has to worry about you."