Header

6/13/2012

Vegetarianism, Monks and Fake Meat


Dalam ajaran Buddha, menjadi vegetarian atau tidak, tergantung sepenuhnya pada pribadi itu sendiri. Apa yang ditekankan dalam ajaran Buddha bukanlah kemurnian dari makanan, tetapi kemurnian dari pikiran.

Tentu saja, banyak umat Buddha, yang kemudian menyadari kekejaman yang terlibat dari konsumsi daging, yang tidak lebih dari sekedar daging binatang malang. Banyak yang berhasil dalam mengakhiri nafsu keinginan dan keterikatan pada konsumsi daging, dan pada akhirnya menjadi vegetarian atas kehendak mereka sendiri.

Akan tetapi, apabila menjadi vegetarian tidak sesuai atau terlalu sulit, maka ambillah jalan dimana anda merasa nyaman dengannya. Meskipun demikian, menjadi vegetarian sekurang-kurangnya sekali atau dua kali dalam sebulan adalah cara yang baik dalam mempraktekkan belas kasih pada semua makhluk hidup, dengan kesadaran menghindari daging setidaknya pada hari itu.

Buku yang dengan sangat baik menguraikan pandangan Buddhis tentang Vegetarianisme adalah karangan Philip Kapleau’s dengan judul “Menghargai Setiap Kehidupan”.

Mengapa sebagian bhikkhu makan daging?
Buddha menolak larangan makan daging di antara pengikut Beliau. Beliau memiliki alasan yang sangat praktis dalam hal ini karena makanan sayur-sayuran tidak cukup tersedia di beberapa area, atau bisa jadi sangat langka pada musim kering. Sebagai contoh, makanan sayur-sayuran sangat terbatas di tempat seperti Tibet.

Para bhikkhu bertahan hidup dengan cara meminta sedekah dan apabila meminta sedekah hanya dibatasi pada makanan sayur-sayuran, maka hal ini bisa menjadi beban besar bagi umat awam yang mendukung para bhikkhu. Jadi, para bhikkhu makan apa saja yang diberikan kepada mereka, bahkan jika itu daging, sepanjang binatang tersebut tidak secara khusus dibunuh untuk mereka.

Dewasa ini, walaupun banyak bhikkhu dan vihara memiliki pilihan untuk makanan sayur-sayuran. Namun, harus diperhatikan bahwa sebagian besar bhikkhu dalam tradisi Mahayana adalah vegetarian ketat.

Bukankah vegetarian umat Buddha yang mengkonsumsi daging tiruan bersifat munafik? Mengapa harus daging tiruan?
Daging tiruan adalah makanan popular vegetarian yang terbuat dari ketan, kacang kedelai atau jamur yang meniru tampilan dan rasa dari daging beneran. Umat Vegetarian Buddhis terkadang dituduh munafik karena mereka mengaku menghindari daging namun makan segala jenis daging tiruan.

Kaum vegetarian umumnya tidak berkeinginan untuk mengkonsumsi sesuatu yang melibatkan penderitaan dan pembunuhan dari hewan yang malang. Jadi, mereka tidak memandang daging tiruan sebagai ‘daging’ tetapi hanyalah sesuatu yang memberikan keragaman makanan.

Daging tiruan pada awalnya diproduksi untuk menarik non-vegetarian pada makanan vegetarian. Misalnya, daging tiruan tersebut dapat dimakan oleh pemakan daging yang ingin menjadi vegetarian, berhubung makanan tersebut memudahkan transisi menuju vegetarian penuh.

Dalam kasus apapun, makan daging tiruan masih jauh lebih baik dari makan daging binatang asli.

“Semua makhluk mencintai kehidupan,
Semua makhluk mencintai kebahagiaan.
Dengan diri sendiri sebagai perbandingan,
kamu tidak seharusnya melukai atau membunuh,
Atau menyebabkan luka atau terbunuhnya makhluk lain.”

Source: buddhistzone

5/12/2012

A Sweet Lesson on Patience from Taxi Driver - The Story


Aku tiba di suatu tempat dan menekan klakson. Setelah menunggu beberapa menit, aku menekan klakson lagi. Dikarenakan ini akan menjadi tumpangan terakhir di jam kerjaku aku sempat berpikir untuk pergi saja, tetapi akhirnya aku memutuskan memarkirkan taksi di taman dan berjalan mendekati pintu dan mengetuknya. "Tunggu sebentar", jawab seorang wanita dengan suara yang lemah. Aku dapat mendengar sesuatu sedang diseret di lantai.

Setelah cukup lama menunggu, pintu akhirnya terbuka. Seorang wanita kecil berusia sekitar 90 tahunan berdiri di depanku. Dia mengenakan gaun dan topi berbentuk kotak, seperti seseorang yang berada di film tahun 1940-an.

Di sebelahnya terdapat sebuah koper berbahan nilon. Apartemen itu tampak seperti tidak ada yang tinggal di dalamnya selama bertahun-tahun. Semua furnitur ditutupi dengan lembaran-lembaran.

Tidak ada jam di dinding, tidak ada pernak-pernik atau peralatan di counter. Di sudut terdapat sebuah kotak kardus yang penuh dengan foto dan barang pecah belah.

'Apakah Anda bersedia membawa tas saya ke mobil? "katanya. Aku mengambil koper itu dan membawanya ke bagasi taksi, lalu kembali dan membantu wanita tersebut.

Dia memegang tanganku dan kami berjalan perlahan menuju tepi jalan. Dia terus berterima kasih kepada saya untuk kebaikan saya. "Tidak apa-apa", saya katakan kepadanya. "Saya hanya mencoba untuk melayani penumpang saya seperti keinginan saya untuk ibu saya agar diperlakukan dengan baik."

"Oh, kamu seorang anak yang baik", kata wanita itu. Ketika kami berada di dalam taksi, dia memberikanku sebuah alamat dan bertanya, "Dapatkah Anda mengantar saya melewati pusat kota?

"Itu bukan jalan pintas", jawabku dengan cepat.

"Oh, tidak apa-apa. Saya tidak buru-buru. Saya dalam perjalanan ke rumah perawatan", kata wanita itu.

Aku melihat di kaca spion. Matanya berkaca-kaca. "Saya tidak memiliki keluarga lagi," dia melanjutkan dengan suara yang pelan. "Dokter berkata bahwa saya tidak memiliki banyak waktu lagi", lanjutnya. Aku diam-diam mengulurkan tangan dan mematikan meteran tarif.

"Rute mana yang ingin Anda lewati?" Aku bertanya.

Selama dua jam berikutnya, kami berkeliling melewati kota. Dia memperlihatkanku sebuah gedung dimana dulu dia pernah bekerja sebagai operator lift. Lalu kami melewati daerah dimana dia dan suaminya pernah tinggal ketika mereka pengantin baru. Dia menyuruhku berhenti di depan sebuah gudang mebel yang pernah menjadi ballroom tempat ia pergi menari sebagai seorang gadis.

Terkadang dia memintaku untuk memperlambat taksi di depan sebuah bangunan atau sudut tertentu dan duduk menatap ke dalam kegelapan, tanpa mengatakan apa-apa.

Lalu tiba-tiba dia berkata, "Aku lelah, mari kita pergi sekarang." Kami melanjutkan perjalanan dengan keheningan ke alamat yang dia berikan sebelumnya. Akhirnya kami sampai. Itu adalah bangunan rendah, seperti rumah peristirahatan kecil, dengan jalan masuk yang lewat di bawah serambi.

Dua mantri keluar ke arah taksi segera setelah kami berhenti. Mereka cemas dan mengawasi setiap gerakan wanita itu. Mereka pasti sudah menunggunya.

Aku membuka bagasi, mengambil koper kecilnya dan membawanya sampai ke pintu. Wanita itu telah duduk di kursi roda.

"Berapa yang harus kubayar?" Kata wanita itu, sambil mengambil dompetnya.

"Tidak ada," kataku.

"Anda harus mencari nafkah," jawab wanita itu.

"Masih ada penumpang lainnya" balasku.

Hampir tanpa berpikir, aku membungkuk dan memberinya sebuah pelukan. Dia memelukku dengan erat.

"Anda telah memberikan seorang wanita tua sedikit momen bahagia," katanya. "Terima kasih," lanjutnya.

Aku memegang erat tangannya, dan kemudian berjalan ke dalam cahaya redup pagi itu. Di belakangku, sebuah pintu tertutup. Itu adalah suara penutupan kehidupan.

Aku tidak mencari penumpang lagi hari itu. Aku berkendara tanpa tujuan dan melamun. Di sisa hari itu, aku hampir tidak bisa berkata. Bagaimana jika wanita itu mendapati seorang supir taksi yang emosi, atau supir yang tidak sabar untuk mengakhiri giliran tugasnya? Bagaimana jika aku menolak mengantarnya, atau hanya menekan klakson satu kali, lalu pergi?

Aku tidak berpikir bahwa aku telah melakukan sesuatu yang lebih penting di dalam hidupku.

Kita dikondisikan untuk berpikir bahwa hidup kita berputar di sekitar momen-momen yang indah.

Tetapi momen-momen indah tersebut seringkali tidak kita sadari - keindahan yang terbungkus di dalamnya mungkin sering dipandang orang lain sebagai sebuah hal kecil.

Source: glocals

5/02/2012

Live Fish and Turtles Sold as Keychains in China


Di stasiun bawah tanah Sihui di Beijing, kura-kura jenis Brazilian & ikan hidup dijadikan gantungan kunci. Sovenir ini sangat ramai dibeli. Kelompok pelindung binatang memprotes dan melakukan pencekalan dan menyebut sovenir ini sebagai bentuk penyiksaan hewan yang murni. Sayangnya, belum ada hukum untuk perlindungan hewan yang bisa mencegah penjualan sovenir ini.

Gantungan ini berukuran panjang sekitar 7 cm berbentuk kapsul dari plastik yang berisi air berwarna-warni & juga terdapat seekor kura-kura Brazil atau 2 ekor ikan kecil jenis Kingfish di dalamnya. Si penjual menjelaskan bahwa air berwarna yang ada di dalam gantungan kunci itu memiliki semacam ‘gizi’, jadi hewan yang ada di dalamnya bisa bertahan hidup selama berbulan-bulan. Gantungan kunci ini laris bak kacang goreng, bahkan dalam 5 menit, 10 buah gantungan kunci sudah terjual.


Seorang pembeli berumur kira kira 30 tahun mengatakan gantungan kunci itu kelihatan cantik & bisa membawa keberuntungan. Memang di Cina, kura-kura merupakan salah satu hewan yang dianggap membawa keberuntungan. Tapi ada juga pembeli yang membeli gantungan kunci itu lalu melepaskan hewan di dalamnya karena merasa kasihan.

Menurut Mary Peng, pendiri International Center for Veterinary Services, ikan dan kura-kura tidak akan bertahan hidup lama di dalam kantong plastik yang tertutup rapat karena sudah pasti akan kehabisan oksigen. Kelompok perlindungan hewan menentang keras penjualan gantungan kunci ini. Direktur NGO Capital Animal Welfare Association, Qin Xiaona menyatakan bahwa menaruh benda hidup di dalam tempat kecil yang tersegel & terbatas untuk tujuan memperoleh keuntungan sangat tidak bermoral & benar-benar merupakan salah satu bentuk nyata penyiksaan terhadap binatang. Tapi, Cina hanya memiliki Wild Animal Protection Law. Jadi jika hewan-hewan tersebut bukan hewan liar, mereka tidak termasuk dalam cakupan undang-undang tersebut. Xiaona melanjutkan jika hukum perlindungan hewan tidak bisa diharapkan, maka secara mendesak, Cina perlu undang-undang baru yang mengatur undang-undang anti penyiksaan terhadap hewan. Sementara itu, Xiaona sibuk meminta orang-orang untuk tidak membeli gantungan kunci ini dengan alasan jika tidak ada yang membeli, pasar gantungan kunci ini akan mati & dengan sendirinya, produksi souvenir ini akan berhenti.

Source: satwaunik

4/21/2012

Changing Habits: The Power of Believing


Kebiasaan adalah bagian besar dari cara kita menjalani hidup kita dan dalam membuat keputusan. Lebih dari empat puluh persen tindakan yang orang lakukan setiap hari adalah kebiasaan, bukan keputusan. Itu hampir setengahnya.

Kebiasaan baik membantu Anda menyimpan daya otak Anda. Anda tidak harus memutuskan atau memikirkan tentang menyikat gigi Anda, Anda hanya melakukannya. Ketika orang yang sedang tertekan atau hidupnya berantakan pada perawatan diri dan kebersihan, mereka tidak memiliki kebiasaan baik ini dan harus menggunakan banyak energi untuk membangun mereka. Itu menjadi sulit.

Tetapi apa yang tampaknya lebih sulit adalah mengubah kebiasaan yang berbahaya bagi kita. Kadang-kadang kebiasaan tidak membantu kita dan kita perlu mengubahnya.

Kebiasaan tampaknya tidak dapat dihapus, mereka harus digantikan. Anda dapat berhenti menggigit kuku, merokok, makan junk food, atau berteriak pada orang-orang yang menantang Anda. Anda dapat belajar untuk menempatkan pakaian kotor pada tempatnya dan menjaga rumah tetap bersih. Anda melakukannya dengan mengganti satu perilaku dengan perilaku yang lain.

Salah satu cara untuk mengubah sebuah kebiasaan adalah dengan tetap mempertahankan tanda dan "hadiah" yang sama, serta memasukkan rutinitas baru. Duhigg menyebutnya sebagai kebiasaan yang berulang. Sebuah contoh dari sebuah kebiasaan yang berulang adalah menonton televisi sambil makan keripik. Tandanya adalah pulang dari kerja atau aktivitas lain. Perilakunya tentu saja memakan keripik dan menonton televisi.

"Hadiah"-nya adalah perasaan tenang yang didapat dari kombinasi kepuasan menonton televisi dan kenyamanan dari makanan. Sewaktu hari kerja, Anda bahkan dapat membayangkan diri Anda berada di rumah berada di sofa sambil menonton acara favorit Anda. Anda dapat mempertimbangkan minuman yang ingin Anda beli untuk menemani keripik Anda. Anda dapat menggunakan lamunan untuk membantu menghibur diri di siang hari.

Tetapi kadang-kadang cara Anda menghibur diri sendiri adalah berbahaya. Memakan keripik atau coklat terlalu banyak memiliki efek negatif, meskipun memakan mereka dapat menenangkan Anda. Bahkan menonton televisi terlalu banyak, terutama bila Anda memiliki tugas-tugas lain yang harus Anda selesaikan, dapat berefek negatif.

Mengubah kebiasaan itu sulit, tetapi memungkinkan.

Untuk mengubah kebiasaan tersebut, Anda harus mengembangkan cara yang berbeda untuk merasa tenang atau cara yang berbeda untuk mengalihkan perhatian Anda. Anda membutuhkan cara baru untuk mendapatkan "hadiah" yang ingin Anda nikmati.

Apa yang Anda lakukan tergantung pada tujuan Anda. Jika Anda ingin mengurangi menonton televisi, maka Anda dapat memutuskan untuk tidak duduk di sofa ruang tamu ketika Anda tiba di rumah. Anda bisa duduk di kursi yang nyaman di sebuah ruangan tanpa televisi. Atau Anda mungkin ingin memberikan diri Anda sesuatu yang berbeda sambil duduk di sofa. Jika "hadiah" utama menonton televisi adalah pengalihan dari hari Anda, carilah cara lain untuk mengalihkan perhatian Anda, seperti bermain game dengan teman atau keluarga, mungkin saja itu dapat bekerja.

Jika Anda mengubah satu pola, sesuatu yang disebut kebiasaan Keystone, maka Anda cenderung untuk membuat perubahan lain juga. Orang yang mengubah diet mereka sering lebih memperhatikan diri mereka sendiri dengan cara lain. Mereka dapat berhenti merokok, olahraga, berpakaian lebih hati-hati, dan secara finansial lebih bertanggung jawab.

Entah mengapa pergeseran awal memulai reaksi berantai yang membantu kebiasaan baik lainnya bertahan. Kebiasaan Keystone menawarkan apa yang dikenal sebagai kemenangan kecil. Memiliki kemenangan kecil menyebabkan perubahan yang lebih besar.

Meskipun otak berubah, mengembangkan kegiatan baru di bidang disiplin diri, ketika Anda bertukar kebiasaan negatif dengan yang positif, daerah yang berhubungan dengan pola lama masih aktif. Ketika Anda sangat stres, Anda cenderung kembali ke kebiasaan lama Anda, salah satu yang telah tertanam selama bertahun-tahun. Tetapi beberapa orang tidak kembali ke kebiasaan negatif mereka, bahkan ketika dibawa tekanan.

Apa yang bisa membuat perbedaan? Duhigg mengatakan ini tentang keyakinan. Ketika seseorang benar-benar percaya pada perubahan, percaya pada nilai perilaku baru, mereka tidak akan kembali ke pola lama. Salah satu bagian dari keyakinan bahwa adalah memiliki kelompok pendukung, orang yang membantu Anda menjaga iman akan pentingnya membuat perubahan dan melakukan apa yang terbaik untuk Anda.

Membuat perubahan kecil dapat memberikan keyakinan dan harapan dalam diri Anda. Harapan dan keyakinan itu bisa menguatkan Anda dan menunjukkan bahwa perubahan adalah mungkin. Jadi jika Anda sedang berjuang dengan depresi atau emosi lain yang luar biasa, pergilah untuk kemenangan kecil. Gunakan prinsip-prinsip perubahan kebiasaan. Ambil sebuah langkah kecil, perubahan kecil, dan menyadari pentingnya langkah tersebut yang kemudian mengambil lain.

Source: psychcentral

4/20/2012

Don't Judge People by Their Appearance - The Story


Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University.

Mereka meminta janji. Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

“Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard”, kata sang pria lembut.
“Beliau hari ini sibuk,” sahut sang Sekretaris cepat.
“Kami akan menunggu,” jawab sang wanita.

Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.

“Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi,” katanya pada sang Pimpinan Harvard. Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang di luar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul.

Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.
Sang wanita berkata padanya, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini, bolehkan?” tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.

Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. “Nyonya ,Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan.”katanya dengan kasar

“Oh, bukan, Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.” Sang wanita menjelaskan dengan cepat.

Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung ?! Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.”

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, “Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?” Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan.

Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard. Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di Amerika Serikat.

Kita, seperti Pimpinan Harvard itu, seringkali silau oleh baju, dan lalai. Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat tak ternilai. Jadi, "Jangan Menilai Seseorang Dari Bajunya"

Source: pempek nyonya

Never Underestimate The Small Things


Suatu ketika pemilik Mercedez Benz memiliki masalah dengan kran air di kamar mandi di rumahnya. Kran tersebut selalu bocor dan membuat bos besar Marcedez itu khawatir akan keselamatan anaknya yang dapat terpeleset dan jatuh. Mengikuti rekomendasi temannya, Mr. Benz menghubungi tukang ledeng agar memperbaiki kran miliknya.

Akhirnya di buat janji untuk memperbaiki kran tersebut yaitu 2 hari lagi, hal ini di karena si tukang ledeng cukup sibuk. Bahkan tukang ledeng tersebut tidak mengetahui bahwa yang meneleponnya adalah salah satu orang penting yaitu pemilik perusahaan mobil terbesar di Jerman.

Setelah ditelepon, 1 hari kemudian si tukang ledeng menghubungi Mr. Benz untuk menyampaikan ucapan terima kasih karena telah bersedia menunggu hingga 1 hari lagi. Mr. Benz pun terkagum-kagum atas pelayanan si tukang ledeng dan cara berbicaranya.

Hari berikutnya pada hari yang telah ditentukan, si tukang ledeng datang untuk memperbaiki kran yang bocor di rumah Mr. Benz. Setelah di periksa dengan seksama, akhirnya kran tersebut selesai diperbaiki dan setelah terima pembayaran atas jasanya, si tukang ledeng pulang ke rumahnya.

Sekitar 2 minggu kemudian hari itu, si tukang ledeng menelpon Mr. Benz untuk menanyakan apakah kran yang telah diperbaiki sudah benar-benar dalam kondisi baik dan tidak ada masalah yang timbul?

Ternyata Mr. Benz puas akan hasil kerja si tukang ledeng dan mengucapkan terima kasih atas pelayanan si tukang ledeng. Mr. Benz berpikir, bahwa orang ini pasti orang yang hebat walaupun hanya seorang tukang ledeng.

Beberapa bulan kemudian Mr. Benz merekruit si tukang ledeng untuk bekerja di perusahaannya.

Tahukah Anda siapa nama tukang ledeng tersebut?

Ya, dialah Christopher L. Jr. Saat ini beliau menjabat sebagai General Manager Customer Satisfaction & Public Relation di Mercedez Benz.

Pesan Cerita :
Cerita di atas memberi pelajaran kepada kita untuk memberikan yang terbaik di kehidupan ini apapun posisi kita saat ini. Seringkali kita menganggap remeh hal-hal kecil dalam hidup kita dan kita tidak menyadari bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini terbentuk dari hal yang paling kecil.

Sering kita mendengar pepatah "Bagaimana mungkin seseorang dapat mengerjakan suatu perkara besar jika selalu mengabaikan perkara-perkara kecil?". Sesungguhnya pepatah ini merupakan suatu KEBENARAN yang perlu kita perhatikan bersama.

"Lakukan sesuai dengan kemampuan yang ada,
jangan pernah berniat untuk menunggu,
sebab dengan menunggu,
mungkin akan membuat kita kehilangan kesempatan."


Source: buddhistzone

A Bowl of Rice - The Story


Cerita ini berdasarkan kisah nyata yang terjadi di negri Tiongkok. Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir didepan sebuah rumah makan cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu direstoran sudah agak sepi, dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk kedalam restoran tersebut.

Kemudian pemuda itu berkata:
"Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih."
dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan.

Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya.

Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar lalu berkata dengan pelan:
"dapatkah menyiram sedikit kuah sayur diatas nasi saya."

Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum:
"Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar !"

Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir:
" kuah sayur gratis."
Lalu memesan semangkuk lagi nasi putih.

" Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi nasinya."
Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini.

"Bukan, saya akan membawa pulang, besok akan membawa kesekolah sebagai makan siang saya !"

Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini tentu dari keluarga miskin diluar kota, demi menuntut ilmu datang kekota, mencari uang sendiri untuk sekolah, kesulitan dalam keuangan itu sudah pasti.

Berpikir sampai disitu pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong daging dan sebutir telur disembunyikan dibawah nasi, kemudian membungkus nasi tersebut sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja dan memberikan kepada pemuda ini.

Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini,
hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan dibawah nasi?
Suaminya kemudian membisik kepadanya :
"Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk dinasinya dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya, harga dirinya pasti akan tersinggung lain kali dia tidak akan datang lagi, jika dia ketempat lain hanya membeli semangkuk nasi putih, mana ada gizi untuk bersekolah."

"Engkau sungguh baik hati, sudah menolong orang masih menjaga harga dirinya."

"Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku ?"

Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain.
"Terima kasih, saya sudah selesai makan."
Pemuda ini pamit kepada mereka.

Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikan badan melihat dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka.
"Besok singgah lagi, engkau harus tetap bersemangat !"
katanya sambil melambaikan tangan, dalam perkataannya bermaksud mengundang
pemuda ini besok jangan segan-segan datang lagi.

Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu, mulai saat itu setiap sore pemuda ini singgah kerumah makan mereka, sama seperti biasa setiap hari hanya memakan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan hari. Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi setiap hari, sampai pemuda ini tamat, selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi.

Pada suatu hari, ketika suami ini sudah berumur 50 tahun lebih,
pemerintah melayangkan sebuah surat bahwa rumah makan mereka harus digusur, tiba-tiba kehilangan mata pencaharian dan mengingat anak mereka yang disekolahkan diluar negeri yang perlu biaya setiap bulan membuat suami istri ini berpelukan menangis dengan panik.

Pada saat ini masuk seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek kelihatannya seperti direktur dari kantor bonafid.
"Apa kabar?, saya adalah wakil direktur dari sebuah perusahaan, saya diperintah oleh direktur kami mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami, perusahaan kami telah menyediakan semuanya kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian kesana, keuntungannya akan dibagi 2 dengan perusahaan."

"Siapakah direktur diperusahaan kamu ?, mengapa begitu baik terhadap kami? saya tidak ingat mengenal seorang yang begitu mulia !" Sepasang suami istri ini berkata dengan terheran.


"Kalian adalah penolong dan kawan baik direktur kami, direktur kami paling suka makan telur dan dendeng buatan kalian, hanya itu yang saya tahu, yang lain setelah kalian bertemu dengannya dapat bertanya kepadanya."

Akhirnya, pemuda yang hanya memakan semangkuk nasi putih ini muncul, setelah bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun kerajaaan bisnisnya dan sekarang menjadi seorang direktur yang sukses.

Dia merasa kesuksesan pada saat ini adalah berkat bantuan sepasang suami istri ini, jika mereka tidak membantunya dia tidak mungkin akan dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sesukses sekarang.

Setelah berbincang-bincang, suami istri ini pamit hendak meninggalkan kantornya.
Pemuda ini berdiri dari kursi direkturnya dan dengan membungkuk dalam-dalam berkata kepada mereka:
"bersemangat ya ! dikemudian hari perusahaan tergantung kepada kalian, sampai bertemu besok !"

Kebaikan hati dan balas budi selamanya dalam kehidupan manusia adalah suatu perbuatan indah dan yang paling mengharukan.

Source: buddhistzone